Ricikan Anatomi Jejeran/Deder Keris
Mengenal Bagian, Istilah, dan Perbedaan Jejeran Gaya Yogyakarta–Surakarta
Dalam mempelajari keris, mengenal **ricikan** tidak hanya membantu kita memahami bentuk dan keindahan Garap sebuah pusaka, tetapi juga menumbuhkan penghargaan terhadap tata pakem, nilai budaya, serta ketelitian para empu dan mranggi dalam menghasilkan setiap karya.
Salah satu bagian yang menarik untuk dipelajari adalah jejeran atau deder, yaitu bagian hulu keris yang menjadi tempat menggenggam pusaka sekaligus memiliki bentuk, karakter, dan istilah ricikan yang beragam.
Ricikan Anatomi Jejeran / Deder Keris
Beberapa bagian atau ricikan yang umum dikenal pada jejeran/deder antara lain:
• Mbun-mbunan— bagian paling atas pada deder.
• Kuncung / Jambul— bagian menonjol pada sisi atas deder.
• Bathuk— bagian depan pada struktur deder.
• Rengon— bagian pembentuk karakter pada deder.
• Cecekan Nginggil— ukiran pada sisi atas.
• Dha-dha— bagian tengah depan deder.
• Weteng— bagian tengah yang menjadi salah satu pembentuk volume deder.
• Cecekan Ngandhap— ukiran pada sisi bawah.
• Panjingan— lubang tempat masuknya pesi keris.
• Sirah Wingking— bagian belakang atau kepala belakang deder.
• Pilingan— bagian sisi yang membentuk karakter deder.
• Gigir— bagian punggung atau belakang deder.
• Dering / Lingir— bagian garis atau tonjolan yang membatasi bentuk tertentu.
• Cethik / Cekung— bagian yang berbentuk cekung.
• Pelangen— batas untuk selut pada bagian atas.
• Bungkul / Cembung— bagian cembung yang menjadi tempat dudukan selut keris.
• Omah-omahan— bagian yang menjadi tempat dudukan mendak keris.
Setiap istilah tersebut bukan sekadar nama. Mengenalinya dengan baik akan membantu kita membaca bentuk sebuah jejeran secara lebih teliti, sehingga semakin mudah memahami perbedaan gaya, ukuran, serta kualitas dan karakter garapnya.
Bagian Patran / Ukiran pada Jejeran Deder Nunggak Semi
Pada deder Nunggak Semi, selain memahami anatomi atau ricikannya, kita juga dapat memperhatikan bagian patran atau ukiran yang menjadi unsur penting dalam memperindah tampilan jejeran sekaligus menjadi penanda Kualitas Garap Mranggi “Pembuat Sandangan Keris”.
Patran tidak hanya berfungsi sebagai hiasan. Pola, susunan, serta ketelitian garapnya turut memberikan identitas dan karakter pada sebuah deder. Karena itu, semakin kita mengenal bagian-bagiannya, semakin mudah pula menghargai perbedaan karakter antara satu karya dengan karya lainnya.
Jangan Keliru Memasangkan Deder dan Warangka
Dalam dunia perkerisan, tidak jarang orang yang baru mulai mengenal keris mengalami kekeliruan ketika memasangkan deder dengan warangka.
Sebagai contoh, deder gaya Yogyakarta semestinya dipadukan dengan warangka yang sesuai dengan gaya Yogyakarta. Namun terkadang justru dipasangkan dengan warangka Ladrang atau gayaman Surakarta, atau sebaliknya. Demikian pula sebuah jejeran gaya Surakarta ketika dipasangkan dengan sandangan yang tidak sesuai dengan karakter gayanya.
Hal semacam ini terlihat sederhana, tetapi bagi mereka yang ingin mempelajari keris dengan lebih mendalam, memahami keselarasan antara jejeran, warangka, dan sandangannya merupakan bagian penting dari makna Berkeris.
Perbedaan Deder Yogyakarta dan Jejeran Surakarta
Namun, ukuran bukanlah satu-satunya patokan. Bentuk, proporsi, detail ricikan, karakter ukiran, serta gaya garap juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, kita tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan besar-kecilnya sebuah deder.
Estimasi Perbandingan Ukuran
Berikut estimasi perbandingan ukuran antara Jejeran Surakarta dan Deder Ngayogyakarta yang dapat digunakan sebagai gambaran awal dalam mempelajari perbedaannya.
Perlu dipahami bahwa ukuran tersebut bersifat **estimasi**, karena setiap deder dapat memiliki variasi ukuran dan proporsi sesuai dengan bentuk, zaman, gaya garap, serta karakter pembuatnya.
---
Mempelajari keris bukan hanya tentang memiliki atau mengoleksi pusaka, tetapi juga tentang belajar memahami setiap bagian yang menyertainya.
Semakin kita mengenal ricikan, bentuk, ukuran, patran, hingga keselarasan antara deder dan warangka, semakin tumbuh pula rasa menghargai sebuah karya.
Karena pada akhirnya, sebuah keris tidak hanya menarik untuk dipandang, tetapi juga menyimpan ilmu, tradisi, ketelitian, dan perjalanan budaya yang layak untuk terus dipelajari dan diwariskan.
Mari mengoleksi keris dengan rasa memiliki, sekaligus dengan semangat untuk terus belajar memahami nilai dan keindahan di balik setiap detailnya.





Komentar
Posting Komentar