Ragam Jenis Wanda Jejeran Deder Keris
Ragam Wanda Jejeran Deder Nunggak Semi
Makna Nunggak Semi
Dalam falsafah Jawa, Nunggak berarti tunggak atau akar, sedangkan semi berarti tumbuh dan bertunas.
Sebagaimana akar yang melahirkan tunas baru, Nunggak Semi menjadi perlambang tentang kesinambungan kehidupan: generasi yang terus tumbuh, berkembang, dan menghadapi perubahan zaman, namun tidak pernah tercerabut dari akar asal-usulnya.
Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus berarti melupakan masa lalu.
Justru dari akar yang kuat, tunas dapat tumbuh dengan kokoh. Dari tradisi, lahir kebijaksanaan. Dari ajaran para leluhur, tumbuh budi pekerti. Dan dari nilai-nilai adi luhung itulah generasi penerus menemukan pijakan untuk melangkah menuju masa depan.
Nunggak Semi adalah filosofi tentang tumbuh tanpa kehilangan akar.
---
Baita Tinitihan Jalma
Dalam falsafah Jawa, warangka dan deder kerap digambarkan melalui ungkapan:
“Baita Tinitihan Jalma.”
Warangka diibaratkan sebagai bahtera yang menaungi perjalanan, sementara jejeran atau deder menjadi kemudi yang menentukan arah dan tujuan.
Bahtera yang indah tidak akan berarti apabila kehilangan arah. Demikian pula perjalanan kehidupan; ia membutuhkan pegangan agar langkah tidak sekadar jauh, tetapi juga menuju tujuan yang benar.
Karena itu, memilih sebuah deder bukan semata-mata persoalan bentuk, keindahan, ataupun kemewahan material.
Lebih dalam dari itu, deder merupakan bagian dari cara kita menghormati, memuliakan, dan memahami pusaka, sekaligus mengenali nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Harmoni Bentuk dan Fungsi
Keindahan sebuah deder tidak hanya terletak pada rupa yang tampak oleh mata.
Secara teknis, wanda jejeran deder juga perlu diselaraskan dengan panjang pesi serta condong leleh, yaitu tingkat kemiringan pesi.
Keselarasan tersebut menjadi bagian penting agar deder dan warangka dapat berpadu secara harmonis dan Luwes—bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga tepat secara proporsi dan fungsi.
Dalam tradisi Tosan Aji, Keindahan dan ketepatan bukanlah dua hal yang terpisah.
Keduanya bertemu dalam keseimbangan.
Ragam Wanda Deder Nunggak Semi
Beberapa wanda jejeran/deder Nunggak Semi antara lain:
Setiap wanda memiliki karakter bentuk, proporsi, dan estetika tersendiri. Perbedaan tersebut bukan sekadar variasi rupa, melainkan bagian dari kekayaan pengetahuan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keindahan yang Lahir dari Serat Kayu
Pada material kayu, Nilai estetika dan pemaknannya dapat hadir melalui pola, arah, warna, dan karakter serat alami yang menghiasi permukaan kayu.
Serat bukan sekadar ornamen yang memperindah rupa.
Ia adalah jejak alami yang tumbuh bersama kayu—merekam perjalanan waktu, lingkungan, serta karakter material sebelum akhirnya dipilih dan diolah menjadi bagian dari sebuah pusaka.
Dalam tradisi dan manuskrip kawruh jejeran deder, berbagai pola serat pada kayu juga dikenal memiliki perlambangan dan tafsir tertentu.
Kawruh Jejeran Nayawirangka III, ( Panewu Mantri Mranggi Sinuhun Sri susuhunan Pakubuwana X ) Surakarta Hadiningrat.
" ....... manahipun kajêng dhawah dum-duman ing nglêbêt, punika sami botên sagêd angwontênakên corèk: " cawang, kotang utawi pusêr ingkang mapan".
Mila jêjêran punika sanadyan anggènipun gadhah corèk: cawang tuwin pusêr sapanunggilanipun, punika kenging dipun damêl kasbut ing nginggil, ananging ingkang nama pêpak, cêtha tuwin sae punika inggih kula wastani KAWAHYON, awit inggih awis sangêt. "
________________
"...........
Oleh karena Jejeran itu walaupun faktanya memiliki corak garis ; Cawang pun juga Puser dan motif-motif yang lain. Hal ini bisa disebut dan diupayakan sebagaimana di atas ( penjelasan pada kawruh sebelumnya ) , tetapinya yang memiliki motif komplit/lengkap, jelas dan juga bagus, ini saya beri nama " KAWAHYON", kendatipun demikian harganya sangatlah mahal (sangat berharga) ".
#Catatan:
* Kewahyon : ( kelimpahan Rahmat & ketiban pulung/keberuntungan )
* Cawang / Junjung derajat
* Puser / Unyeng-unyeng
* Kotang : ( motif dari stilasi pakaian/baju tanpa lengan yang diambil dari istilah " Kotang Antakusuma " Pakaian paraga wayang Gatotkaca.
___________________
Tetiba suatu ketika ; terlintas segudang pertanyaan yang membangun penasaran lebih banyak pada sebuah Jejeran yang memiliki motif unyeng-unyeng ( umumnya dari bahan tayuman) lebih terpilih untuk disukai dan lalu dihargai lebih dari sekedar Jejeran umumnya .
Seusai menimbang & menimang kualifikasi pemilihan Jejeran dari aspek teknis ( Utuh ,garap ,bahan, wangun & Wanda) , nyatanya Sisi estetika ( semisal corek/ motif unyeng-unyeng ) turut dinilai sebagai point penting ; yang upaya memunculkannya pun ternyata sangatlah matematis ( sesuai dengan Kawruh di atas ), mulai dari upaya pemilihan yang ditilik dari ciri-ciri pada kondisi kayu, diameter/ukuran ,cara memotong, menggarap beserta prasyaratnya.
Hal tersebut mampu memunculkan varian corek ( motif unyeng-unyeng ) yang diupayakan presisi di garis tengah pada setiap posisi munculnya ,semisal pada beberapa titik rericikan Jejeran, mulai dari ; Bungkul, Geger, bathuk , Dhadha dst. Pun juga, diameter corek ,ketegasan (jelas) dan kemapanan motif, serta jumlah dan lalu banyaknya jenis corek yang muncul Dst.
Dari Hal inilah aspek estetika Jejeran pada ranah corek/unyeng2 mendapatkan perhatian dan penghargaan yang lebih - berbanding dengan sulitnya kriya beserta pemilihan bahan yang sesuai prasyarat -.
Alih-alih semisal Eyang Haryono Haryo Guritno dalam bukunya " Keris Jawa..." ( Hal. 276-277 ) ;memberikan catatan khusus tentang mistik dan Tuah unyeng-unyeng serta memberikan penamaan dan falsafah yang berbeda-beda dari berbagai posisi munculnya corek tersebut .
Pun juga seorang Ngabei Nayawirangka -1937- ( Mantri Mranggi PB X ) menyebutnya dengan nama " KEWAHYON " teruntuk Jejeran yang memiliki 3 motif corek yang berbeda dalam suatu Jejeran ( Puser, Kotang & Cawang ) dengan corek yang presisi, jelas serta bagus ; Lantas memberikan penilaian dan penghargaan lebih untuknya .
MOTIF UNYENG UNYENG JEJERAN DEDER
Mata Kayu yang Membentuk Lingkaran Konsentris ( berlapis lapis ) orang jawa menyebutnya unyeng- unyeng.
Para Mranggi biasanya sedari awal telah Mengarahkan urat urat kayunya Agar dapat menghasilkan pola Unyeng-unyeng tertentu sesuai dengan Tuah / Simbol doa yang diharapkan.
Sepertihalnya pamor, kadangkala letak Pola ini juga diluar rencana seorang mranggi ( Tiban ) , sebab pada beberapa kayu tertentu Pola ini hanya dapat dilihat setelah diamplas halus pada prosesi finishing akhir.
Dalam susastra Jawa ada Ungkapan “warangka manjing curiga , curiga manjing warangka” Dalam konteks Busana taqwa, keris juga disebut "Curiga" yang berarti kewaspadaan , Kehati-hatian .
Ini mencerminkan prinsip taqwa yang menekankan kesadaran akan bahaya dan potensi kesalahan, sehingga diharapkan agar selalu berhati-hati dalam segala tindakannya.
Sebagai Bagian Penting dari Keris ; Deder dan warangka menggambarkan “Baita Tinitihan Jalma”Seperti Bahtera dengan Nahkodanya .
Dari berbagai jenis bahan warangka dan deder : ada Kayu Timoho yang luka-luka lalu kayunya berpelet, bebercak, berpoleng , entah itu kendhit, ngingrim, nyamel, sembur dan lainnya. juga ada Trembalo yang ngindhen, Cendana yang nganam kepang atau ndaging urang, Tayuman yang burus, Kemuning yang werut ataupun jengker , serta kayu lainnya .
Sebagai Karunia Gusti Allah yang menyiratkan pralambang tertentu, Bahan dipilih dengan teliti, dikerjakan dengan cermat, dan disajikan dengan penuh adab.
Keindahan Alam bersanding dgn ketrampilan para mranggi diarahkan menjadi kriya Seni yang indah penuh makna.
Berikut adalah nama dan Tuah atau simbol do’a dan harapan yang terdapat Pada Jejeran Deder :
Gendhong / Satriya Wibawa : Daya Magis Menambah Wibawa, Sekaligus Membantu Mengangkat Derajat Keluarga Pemiliknya
Satriya Kembar : diharapankan pemilik dapat Mengangkat Derajatnya
Pada akhirnya, Nunggak Semi bukan sekadar nama sebuah wanda.
Ia adalah sebuah pengingat. Bahwa manusia boleh berubah mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akar.
Boleh tumbuh setinggi-tingginya, tetapi tetap mengenali tanah tempat ia berpijak.
Boleh melangkah sejauh-jauhnya, tetapi tetap mengingat dari mana perjalanan itu bermula.
Sebab kehidupan yang baik bukanlah tentang seberapa jauh kita meninggalkan masa lalu, melainkan seberapa bijaksana kita membawa nilai-nilai luhur masa lalu untuk menerangi masa depan.
**Nunggak Semi — tumbuh dalam zaman, berakar dalam kebijaksanaan.**





















Komentar
Posting Komentar