RICIKAN KERIS DAN PEMAKNAANNYA

Bagian-Bagian Ricikan Keris Beserta Pemaknaannya



*Membaca Keris Sebagai Jalan Memahami Diri


Keris bukan sekadar karya adiluhung hasil tempaan seorang Empu. Di balik lekuk bilah, ricikan, dan setiap detail bentuknya, tersimpan ajaran tentang kehidupan, perjalanan manusia, serta hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta. Bagi para leluhur Jawa, keris merupakan simbol lahiriah yang memuat pengetahuan batiniah. Oleh sebab itu, memahami keris tidak cukup hanya dari sisi bentuk dan estetikanya, tetapi juga melalui makna yang tersembunyi di balik setiap ricikan.


Dalam Serat Among Raga Pupuh 235, dijelaskan bahwa setiap bagian keris merupakan perlambang perjalanan spiritual manusia. Mulai dari Gonjo-panetes hingga Pesi, semuanya mengandung filosofi yang mengajak manusia mengenali asal-usul, menjaga kesadaran, mengendalikan hawa nafsu, hingga menemukan pusat kehidupannya.


1. Gonjo — Lambang Kesatuan yang Tak Terpisahkan

"...Loro-lorone sawujud, lamun ingaran satunggal, lan kakalih èstunipun..."

(Serat Among Raga, Pupuh 235 Bait 6)






Serat Among Raga mengawali pembahasan ricikan keris dari Gonjo, yang dimaknai sebagai lambang hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya. Dua yang tampak berbeda, namun pada hakikatnya berasal dari satu kesatuan.

Secara tradisi, Gonjo dibuat dari ujung calon bilah keris ketika masih berbentuk kodokan. Bagian ujung tersebut dipotong untuk dijadikan Gonjo. Karena berasal dari bahan yang sama, tidak lagi dapat dibedakan mana yang dahulu bagian atas dan mana yang bawah. Keduanya lahir dari satu asal.

Inilah makna terdalam yang diwariskan para Empu. Bila disebut satu, maka ia memang satu. Bila disebut dua, ia memang tampak dua. Namun pada hakikatnya tetap berasal dari satu sumber.

Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia dan Tuhannya memang berbeda dalam wujud, tetapi hubungan keduanya tidak pernah terpisahkan. Kehidupan sejati lahir ketika manusia menyadari asal-usulnya dan senantiasa kembali kepada Sang Pencipta.

“Pinurwa kang aran ganja, punika kang luwih luhur, satuhu tuhune amung, Allah Subkanna Tangala, tutuping Allah (n)Jêng Rasul, Nabi nayakèng bawana, kakasihira Hyang Agung,mangka nglahirkên tandhanya, Gusti lan kawulanipun.Loro- lorone sawujud, lamun ingaran satunggal, lan kakalih èstunipun, ingaran ro kadiparan, pan sawiji jatinipun”


---


2. Sirah Cecak — Baitul Makmur - akal Pikiran.

"...Sirah-cêcak kang winarna, satuhune Betal-makmur..." (Pupuh 235 Bait ke 8 ) 


Sirah Cecak dimaknai sebagai perlambang Baitul Makmur,  Yakni Kepala sebagai rumah dari akal Pikiran . 

Kepala bukan hanya tempat berpikir, tetapi menjadi simbol pusat keteringatan manusia, Segala ilmu, kebijaksanaan yang tumbuh hingga kesadaran untuk mengingat Tuhan, tidak lain bermula darinya.

Sirah-cêcak kang winarna, satuhune Betal-makmur, sirahe manungsa iku, wêrdine sasananira, parameyan wijilipun, kaèngêtaning manungsa, tan lyan saka Betal-makmur” 


---


3. Tikel Alis — Mengendalikan Tiga Perkara dalam Diri

"...Tikêl-alis ginupita, nêpsu tri prakara èstu..."

(Pupuh 235 Bait 9)


Tikel Alis melambangkan tiga perkara utama yang harus dijaga manusia, yaitu:

* Sabar.

* Maklum atau mampu memahami keadaan.

* Mengendalikan hawa nafsu.

Ketiganya merupakan fondasi keselamatan hidup. Orang yang mampu menahan diri, memahami sesama, dan menguasai nafsunya akan menemukan ketenangan batin.

Ricikan  ini mengingatkan bahwa Lahirnya kemenangan terbesar  bukan dari Menaklukan Orang Lain, melainkan menaklukkan diri sendiri.

“Tikêl-alis ginupita, nêpsu tri prakara èstu,darana ingkang rumuhun, mila kaping kalihira,maklum kaping tiganipun, yèku nêpsuning kang manah,maknawi sukci rahayu.”


---


4. Kembang Kacang — Kesadaran Nafas sebagai Jalan Mengenal Tuhan

"...Kêmbang-kacang maknanira, Gunung Tursina satuhu..." (Pupuh 235 Bait 10)



Kembang Kacang dimaknai sebagai perlambang Gunung Tursina, tempat Nabi Musa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Namun dalam pemaknaan batin, Gunung Tursina bukan semata-mata sebuah tempat, melainkan kesadaran terhadap keluar masuknya napas.

Napas menjadi pertanda kehidupan. Setiap tarikan dan hembusannya mengingatkan bahwa manusia hidup karena kehendak-Nya.

Saat seseorang mampu menyadari napasnya dengan penuh keheningan, di sanalah ia belajar mengenali hubungan antara hamba dan Tuhannya.

Kêmbang-kacang maknanira, Gunung Tursina satuhu, kang ngawruhi lakunipun, lumêbu myang mêdalira, ing napas kang mêtu ngirung, dadya tandhaning kawula, lawan Gustinira iku.”


---


5. Greneng — Suara Hati yang Menentukan Kehidupan

"...Mangkya grènèng wujudira..." (Pupuh 235 Bait 12)



Dalam Tradisi Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Cirikhas Bentuk Greneng Juga dipakai Sebagai  “Tanda Tangan Sang Empu “



Greneng berbentuk menyerupai aksara Jawa "dha-dha", yang dalam Serat Among Raga dimaknai sebagai tempat kehidupan dan kematian berada.

Greneng” dalam Bahasa Jawa Juga Bermakna Suara Hati , letaknya di Dalam dada.

Bahwa Kematian yang sesungguhnya bukan semata berhentinya napas, melainkan ketika hati kehilangan cahaya, kehilangan kepekaan, dan kehilangan nurani.

Sebaliknya, selama hati tetap hidup dalam kebenaran, manusia akan terus menemukan makna kehidupannya.

Mangkya grènèng wujudira, aksara dha dha satuhu, myang aksara ma punika, wêrdine panggonan pêjah, nèng jroning dhadhanirèku, mokal kalamun mêdala, ngaurip kalamun lampus.”


---


6. Gandhik — Pangkal Kehidupan dan Jati Diri

"...Gandhik apan têgêsira, punika woding jêjantung...”

(Pupuh 235 Bait 13)



Gandhik dimaknai sebagai akar jantung, sumber kehidupan manusia.

Dalam dunia perkerisan, Gandhik juga menjadi bagian penting yang menentukan identitas sebuah Dhapur. Pada bagian inilah sering dipahat berbagai motif seperti naga, singa, manusia, wayang, ataupun bentuk simbolik lainnya.

Karakter yang terpahat pada Gandhik menjadi penanda watak sebuah keris. sebagaimana Denyut Jantung yang menggambarkan Kondisi Seseorang.

Filosofinya pun demikian. Setiap manusia memiliki jantung kehidupan berupa karakter. Karakter itulah yang pada akhirnya memberi nama bagi perjalanan hidup seseorang, bukan sekadar penampilan luarnya.

Gandhik apan têgêsira, punika woding jêjantung, ingkang kawasa satuhu, mahanani dumadiya, ing carêming manungsèku, datan liyan asalira, yêkti saking jantung mau.”


---


7. Pejetan — Lambang Kemandirian dalam Menjalani Kehidupan

"...Mangkya Pèjètan cinatur, iku driji jêmpol kita..."

(Pupuh 235 Bait 17)



Bahkan pada Dhapur Keris yang paling sederhana sekalipun, seperti Brojol, ricikan Pejetan tetap hadir.


Pejetan dimaknai sebagai ibu jari yang menopang seluruh pekerjaan manusia.


Ibu jari Sendiri adalah penyangga utama kekuatan genggaman yang Paling tulus . Tanpanya, tangan kehilangan fungsi yang sempurna.


Begitu pula dalam kehidupan. Manusia diajarkan agar memiliki kemampuan berdiri di atas usaha sendiri, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak selalu menggantungkan hidup kepada pertolongan orang lain.


Kemandirian merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap anugerah kemampuan yang telah diberikan Tuhan.


Mangkya Pèjètan cinatur, iku driji jêmpol kita, kang kawasa nyangga bakuh, ing karya nglantari marang, kauripan kita èstu.”


---


8. Pesi — Pusat Kehidupan.

"...Pêsi ingkang tinarbuka, apan pusêr wêrdinipun..." (Pupuh 235 Bait 22)



Pesi dimaknai sebagai pusat keberadaan yang sesungguhnya, yaitu hati sanubari manusia.

Secara fisik, Pesi menjadi tulangan yang menghubungkan bilah dengan pegangan keris. Tanpa Pesi, bilah tidak akan dapat menyatu dengan hulunya.

Begitu pula manusia.

Seseorang hendaknya memiliki hati yang terhubung dengan arah, tujuan, dan nilai hidupnya. Ketika hati kehilangan pusatnya, kehidupan menjadi mudah goyah. Namun ketika sanubari tetap tersambung kepada kebenaran yang Hakiki, seluruh perjalanan hidup akan memiliki arah yang jelas.

Pêsi ingkang tinarbuka, apan pusêr wêrdinipun, minangka kaanan tuhu, ing tyas sanubari kita.”


---




Setiap ricikan keris bukanlah hiasan tanpa makna. Para Empu Nusantara merancangnya sebagai bahasa simbol yang menyimpan ajaran luhur tentang hakikat kehidupan.


Gonjo mengajarkan kesatuan asal-usul. Sirah Cecak mengingatkan pentingnya kesadaran. Tikel Alis menuntun manusia mengendalikan dirinya. Kembang Kacang mengajak mengenali Tuhan melalui kesadaran napas. Greneng menjadi perlambang suara hati. Gandhik menunjukkan pentingnya karakter. Pejetan mengajarkan kemandirian, sedangkan Pesi menegaskan bahwa seluruh perjalanan hidup harus berpusat pada hati yang terhubung kepada Sang Pencipta.


Pada akhirnya, keris bukan hanya pusaka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keris adalah pengingat bahwa manusia yang paling mulia bukanlah yang memiliki pusaka paling indah, melainkan mereka yang mampu Mengendalikan dirinya sebagai pusaka bagi kehidupan

—dengan berbudi luhur, berkarakter kuat, serta senantiasa menjaga hubungan yang harmonis baik terhadap sesama dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


ORDER VIA CHAT

Produk : RICIKAN KERIS DAN PEMAKNAANNYA

Harga :

https://www.padhangbulan.com/2026/07/ricikan-keris-dan-pemaknaannya.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi