MAKNA KERIS | PUSAKA | BERPUSAKA
MAKNA KERIS PUSAKA BERPUSAKA
@ PSP. Padhang Bulan
Dalam tradisi Tosan Aji, Keris menjadi kategori utama dan menjadi nama yang paling umum digunakan.
Klasifikasi Utama yang membuatnya layak disebut keris adalah Bahan dan Proses Pembuatannya,
“Keris Minimal dibuat dengan 2 bahan Besi , atau Besi dan Baja, atau Besi Baja dengan Logam , yang proses Pembuatannya dengan DITEMPA LIPAT.”
Artinya : meski bentuknya seperti keris namun jika bahan yang digunakan bukan Besi Aji ; bukan Besi berharga dari proses tempa lipat yang rumit , maka kurang layak disebut Keris. Contohnya : keris-kerisan yang dibuat dari Besi yang dicor, ataupun bahan lain seperti Kuningan yang di cetak, meski bentuknya menyerupai Keris namun tidak Layak di sebut Keris.
KERIS dalam bahasa Krama Inggilnya disebut “DHUWUNG” berasal dari Kata “Delowung”yang Bermakna Keberuntungan.
Dalam Serat Kuno Keris Juga sering disebut CURIGA / CURIGO sebagai Simbol Kewaspadaan dan Kehati hatian dalam Ranah Taqwa.
Selain itu Keris juga sering disebut WANGKINGAN dari cara pemakaian (pada umumnya) “ yang di Wangking”.
“Tidak semua keris layak disebut Pusaka, dan Tidak semua Pusaka mesti berupa Keris”.
Lantas Apa yang dimaksud dengan KERIS PUSAKA ???
"Iki denya kang sastra sinandhi, yen ta sira anggaduh pusaka, wesi aji sawarnane, dhapur kang mengku tutur, kekarepan sajrone ngurip, pamor mungguhe donga, mring gusti kang linuhung, tuhu kebak ing sasmita, mara sira ywa ta kendat hamarsudi, kongsi dadi pepadhang.” (Serat Sastra Bajra I: 2)
Terjemah bebas:
Inilah yang disebut sastra tersandi.
Jika engkau dianugerahi kesempatan merawat pusaka, tosan aji dan yang semisalnya, perhatikanlah dhapur ( Tipology Bentuk) dengan segala ricikannya yang mengandung nasehat, atas berbagai keinginan nafsu dalam kehidupan.
Adapun pamor ( Motif Lipatan Besi ) sebagai lambang doa pengharapan yang tak henti-henti, kepada Gusti Allah Yang Maha Tinggi.
Benar-benar penuh dengan tanda-tanda untuk difahami maknanya, maka janganlah henti engkau mengolah budi memperbaiki diri dari pesan-pesannya, hingga jadilah ia penerang jalan kehidupan.
MENENTUKAN PUSAKA (Bag. 1)
"Wesi duwe watak.
Dhapur mengku karep.
Pamor wis ngarani."
Terjemah:
"Besi punya karakter.
Dhapur mengandung maksud dan harapan.
Pamor menunjukkan doa-doa yang dipanjatkan."
Demikian sering diriwayatkan Romo Yuwanto Parmedi dari Eyang-eyangnya yang merupakan trah para Empu Kadipaten Pakualaman, salah satu dari catur sagotra Kesultanan Mataram Islam. Menurut Bp. Boedhi Adhitya dalam Sarasehan Pametri Wiji, pemaknaan tosan aji dalam hal ini keris mengalami re-interpretasi dari semula gambaran triloka (alam bawah, alam tengah, alam atas) sebagai proses raga dan jiwa manusia menggapai keluhuran dan keabadian menjadi perlambang persemayaman wahyu berupa doa dan harapan yang disematkan sebagai dhapur dan pamor pada besi; unsur yang dalam kitab suci Al Quran disebut memiliki kekuatan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia.
Apakah yang membuat sebuah benda disebut pusaka?
Dalam Bahasa Inggris, pusaka sering diterjemahkan sebagai 'heirloom', sehingga dimaknai sebagai benda penting yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam pengertian ini, pusaka bisa berupa apa saja dan dalam kualitas bagaimanapun juga.
Tetapi dalam prakteknya di Jawa, Keraton sebagai sumber tradisi memiliki pusaka-pusaka yang didapat tidak hanya melalui pewarisan.
Di Keraton Yogyakarta, tercatat bahwa Sri Sultan HB V memahari pusaka-pusaka dari para Pangeran untuk dimasukkan ke Gedong Pusaka Prabayeksa. Demikian pula Sinuhun PB X di Surakarta. Pusaka seperti Pedang KK Mangun Oneng malah diambil dari pemiliknya dan dipakai untuk mengeksekusi yang bersangkutan sebagai kewaspadaan akan pengkhianatannya. Sementara tombak KK Klerek diterimakan dari seorang prajurit atas keberhasilannya membunuh Mayor De Clerq di pertempuran Sungai Bagawanta. Bahkan pusaka utama seperti Keris KKA Kopek merupakan hadiah dari Sinuhun PB III kepada Pamannya, Sri Sultan HB I, meski ada riwayat menyebut ia terkait dengan sosok Sunan Kalijaga dan Panembahan Senapati sebagai pendiri Kerajaan Mataram.
Maka terjemah 'heirloom' ini menurut Bp. Boedhi Adhitya kurang mencakup. Definisi yang lebih mendasar adalah 'masterpiece'. Dari 150-an bilah keris yang ada di Prabayeksa Keraton Yogyakarta, demikian Bp. Boedhi Adhitya dan KRT Kusumanegara memberikan wedharan, semuanya adalah karya masterpiece dari masing-masing zamannya.
Dengan pengertian ini, 'perlakuan' pada dasarnya tidak mempengaruhi status suatu pusaka. Diwariskan atau tidak, yang pusaka tetap pusaka. Sebaliknya, meski diperlakukan sebagai pusaka dan diwariskan turun-temurun, jika derajat masterpiece tidak tercapai dalam artefaknya, maka ia tidak dianggap sebagai pusaka. Makna ungkapan 'Pusaka Kandha' tentunya karena pusaka itu bisa 'bicara' tanpa diwakili siapapun, bahwa ia memang berkualifikasi pusaka.
Demikian pula kisah yang menyertai suatu pusaka, misalnya keterlibatannya dalam sejarah besar berdiri atau berjayanya Keraton dianggap sebagai pelengkap saja. Mayoritas pusaka yang ada di Prabayeksa pun, menurut KRT Kusumanegara, tidak diketahui riwayatnya. Dan tentu, pusaka-pusaka yang masuk ke Keraton sesudah diakuisisi dari pemiliknya, telah memiliki sejarah dan kisahnya sendiri sebelumnya.
Jadi nilai apa yang menentukan suatu benda sebagai pusaka, dan benda yang lain tidak?
Dalam tradisi Keraton, ia harus memenuhi baik kriteria eksoteris maupun isoteris. Dalam memeriksa yang pertama yakni yang kasat mata, awal-awal, demikian para sesepuh berpesan, lihatlah besinya. Untuk sampai pada besi berkelas pusaka, diperlukan proses mewasuh besi. Ia diwasuh, yang artinya disucikan dan dimurnikan, dari bahan yang banyak, melalui penempaan dan pelipatan berulang kali . Alm. Empu Djeno Harumbrojo pernah menyampaikan, untuk kelas wasuhan seperti Empu Pangeran Sedayu di Majapahit, mungkin diperlukan bahan besi sampai 40 Kg. Para Empu Kerajaan sepanjang sejarah tentu memiliki standar amat tinggi dalam mencapai besi berkualifikasi pusaka, dan ini ditunjang oleh kedudukannya yang diutamakan di sisi Raja, dengan hidup yang terjamin dan aneka anugerah hingga yang menjadi fokus mereka adalah mencapai kualitas masterpiece.
Kualitas wasuhan besi pusaka melahirkan istilah ngglali (seperti jenang gula; padat dan licin), nyerat (berserat padat dan rapat), dan nyabak (seperti batu sabak untuk menulis). Pamor, sesudah itu, memberikan kesan kilau yang bergradasi sebagai 'cover' yang indah bagi kekuatan besinya. Penggarapan pamor yang mapan dan baik, apapun pamornya, melambangkan doa yang dilafalkan dengan fasih. Gradasi warna pamor dari yang semi gelap, abu-abu, putih, hingga berkilau keperakan (ngakhodiat) terlebih dengan pola-pola yang memiliki berbagai pemaknaan menjadi nilai tambah selanjutnya.
Lalu Bagaimana dengan garap, empu, dan nilai isoterisnya?
MENENTUKAN PUSAKA (Bag. 2)
Mengapa pusaka bisa disebut sebagai pusaka?
Pertama-tama tentu karena ia memang diniatkan, dirancang, dan melalui rangkaian proses tertentu untuk menjadi pusaka pada saat dibuat. Ia bukan hanya semata-mata sebagai senjata tajam, atau sebagai ageman yang dikenakan secara harian untuk melengkapi busana.
Sang Maha Empu yang membuat pusaka pada masa lalu tentu memiliki kualifikasi yang amat mumpuni, khususnya dalam bidang-bidang berikut :
1. Penguasaan paripurna dalam aspek teknis pembuatan senjata tajam. Hal ini mencakup memilih material, mempersiapkannya, mengolah, menempa, melakukan penggarapan kondisi dingin, dan memahami seluk-beluk tempering, hingga quenching. Pada zaman dahulu, pengetahuan akan hal-hal ini diwariskan secara ketat dan tertutup dalam dinasti Empu. Sebagaimana di masa kini, pembuatan senjata berdaya kuat semisal bom nuklir juga amat sangat dirahasiakan, maka teknis pembuatan keris berkualifikasi pusaka pada masa lalu pun demikian.
2. Penguasaan paripurna dalam ilmu Bahasa simbolis dan filosofis pada keris pusaka. Ini mengapa misalnya keris berdhapur Naga langka karena pada suatu masa dia hanya dibuat atas pesanan dan untuk keluarga kerajaan saja. Semua Maha Empu akan menolak siapapun yang tidak berhak untuk menyandang suatu dhapur atau pamor tertentu. Maka seorang Empu pasti akan menggali data tentang pemesan pusakanya; weton tanggal lahir, silsilah keturunan, pekerjaan, dan apa yang menjadi cita-citanya. Maka sang Empu lalu memilihkan untuknya dhapur dan pamor yang dianggap sesuai dan layak.
3. Penguasaan paripurna tentang citarasa seni Tinggi.Hal ini terkait penggarapan proporsi, keseimbangan, keselarasan, dan keindahannya. Pada masa lalu, para Empu mendapatkan akses ke Gedong Pusaka Keraton untuk dapat mengamati dan mempelajari bilah-bilah pusaka dari zaman sebelumnya, menguasainya dengan baik, lalu menjadikannya sebagai acuan untuk membuat karya baru sesuai eranya. Praktek ‘mutrani’ juga menjadi pola belajar semacam ‘benchmarking’ untuk mencapai masterpiece-nya sendiri.
4. Memiliki kapabilitas spiritual tinggi yang ditandai dengan antara lain keyakinan yang kokoh, ibadah yang terjaga, dan budipekerti yang luhur. Rekam jejak yang tanpa cacat dalam hubungan vertikal maupun horisontal sangat ditekankan.
5. Memiliki akses terhadap material-material terbaik yang diperlukan dalam Dunia Metalurgy. Memahami jenis jenis Besi dan tau mana Besi terbaik, memahami jenis jenis Waja dan Tau mana baja yang terbaik, juga bahan pamor terbaik pada masa lalu tentunya dikuasai dan ditutup aksesnya dari khalayak umum oleh Raja, sebagaimana Uranium ataupun Plutonium pada hari ini.
Demikianlah kualifikasi seorang Maha Empu pembuat pusaka pada masa lalu yang memang hanya dapat dicapai oleh sedikit orang saja. Dan tentunya pada masa itu, Keraton memang selalu mencari dan mempekerjakan hanya yang terbaik di antara semua Empu yang ada. Mereka orang orang pilihan Raja yang di pilih Oleh Alam yang dipilih oleh Gusti . tidak ada Empu Yang Menolak sekalipun ada Maha Empu yang menolak untuk bekerja kepada Raja, tentu akan dianggap sebagai sebuah pemberontakan yang harus ditumpas, sebab potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya jika dia bekerja pada pihak lain.
Pada zaman kita sekarang, barangkali kualifikasi seorang Maha Empu setara dengan Doktor di bidang Metalurgy, Doktor bidang Filosofi, Doktor bidang Seni, dan Doktor bidang Agama sekaligus. Pun dengan Gelar Empu Tidak semata mata disematkan Hanya karna dapat Menempa Besi, devinisi Enpu adalah Mereka yang Menguasai Banyak Hal dan Layak disebut sebagai seorang Ahli.
Ketika Pusaka dibuat oleh seorang Empu atas pesanan khusus, maka tentu pusaka itu disesuaikan dengan sang pemesan dalam beberapa aspeknya, dari dimensi hingga karakter yang bersangkutan, sekaligus dirancang untuk mengakomodasi harapan, cita-cita, serta nilai filosofis dan ajaran adiluhung yang hendak diwariskannya dari generasi ke generasi. Maka bagi mereka yang jeli, mengetahui dan mengamati pusaka seseorang berarti mengungkap pandangan filosofisnya, niat-niat hatinya, pengetahuan dan wawasannya, serta bahkan identitas dan rahasia-rahasia pribadinya.
Karenanya, bagi orang Jawa pada masa lalu, pusaka “AGEMAN” sudah sewajarnya disinengkerkan, dirahasiakan dari pandangan umum. Bahkan bila perlu dipakaikan gonjo wulung Hitam polos untuk menyamarkan dhapur dan pamor dari bilah ketika di dalam warangkanya. Sebab, membiarkan pusaka Personal terekspos oleh pandangan khalayak ramai, sama saja membiarkan diri tampil telanjang. Seakan-akan dapat dilihat segala kelebihan dan kekurangan pribadinya, dan bahkan dapat diketahui segala harapan, rencana-rencana, beserta langkah, strategi, dan taktik yang akan ditempuhnya ke depan untuk mewujudkan semua itu.
Namun Tentu hal ini mungkin sudah tidak lagi relevan pada masa sekarang mengingat kian terbatasnya pemahaman kita akan kawruh masa lalu ini.
Penamaan pusaka dengan gelar depan ‘Kyahi’ juga menunjukkan penghormatan dan rasa cinta, yang mana tradisi ini juga berterima di Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa mengikut contoh dari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberi nama barang-barang pribadinya, dari pedang-pedang, kendaraan tunggangan, pelana, gayung air, hingga wadah makannya. Gelar ‘Kyahi’ juga dilekatkan kepada pribadi-pribadi terhormat yang memiliki pengajaran mulia dan pengaruh besar.
Maka nama-nama pusaka seperti Kanjeng Kyahi X atau Kyahi Y bukan hanya suatu pengakuan dan kekaguman akan keindahan artistiknya saja , melainkan juga karena pusaka itu sendiri dianggap bisa memberikan suatu pengajaran adiluhung, Energi yang Positif sesuai yang telah disematkan oleh Sang Empu pembuat untuk difahami dan dipegang erat serta dilaksanakan oleh pemilik pusaka tersebut.
Hanya mereka yang memahami bahasa-bahasa simbolik nan luhur dalam pusaka yang akan mampu mengambil pelajaran maha penting yang dititipkan ketika pusaka itu dibuat.
Dari sinilah dikenal konsep ‘kewahyon’, yakni kepercayaan bahwa hanya mereka yang memang memiliki kualifikasi pribadi secara integritas, wawasan, dan rohani yang akan beroleh kesempatan melanjutkan merawat suatu pusaka.
Nah, bagaimana kita 'membaca buku' pelajaran adiluhung yang dititipkan Maha Empu pada sebuah pusaka dan apa makna sebenarnya dari tuah pusaka?
MENENTUKAN PUSAKA (Bag. 3)
Katakanlah, kita memiliki keris berdhapur Jalak Tilam Sari seperti pada foto diatas ,diaebut Jalak Tilam Sari Sebab Ciri-ciri Ricikannya sesuai dengan Ciri-ciri Dhapur Jalk Tilamsari,
Cara Untuk Mengindentifikasi Nama Dhapur dapat dilihat dari ciri-ciri Bentuk dan Seluruh Bagian Yang melengkapinya, yang dapat kita Akses Melalui Buku buku Dhapur Keris.
Berikut sketsa Gambar Bagian bagian / Ricikan Keris Secara Lengkap :
(Gambar Sketsa Ricikan Keris Lengkap)
• Kembali ke Dhapur Keris Jalak Tilam Sari
Keris Lajer ( Lurus) dengan ricikan : Gandik Lugas ( Polos) , Terdapat Tikel Alis , Pejetan/ Blumbangan , Sraweyan dan Tidak Lupa Bagian Ri Pandan di Bagian Gonjo yang khas (seperti Jambul Burung Jalak), Maka Barulah dapat Teridentifikasi bahwa Keris ini Berdhapur Jalak Tilam Sari .
Kemudian Menperhatikan Bagian pamornya , Pamor dengan motif dan Teknik lipatan seperti ini dikenal dengan Nama Pamor : Nunggak Semi ( Akar Yang Tumbuh ). Kemudian terdapat Garis ditepian bilah yang membingkai Rapih disebut Pamor Wengkon. Maka kita Menyebutnya Nunggak Semi Wengkon atau Nunggak Semi Winengku.
Besi tapen ditepian bilah Ngahodiyat (Berkilauan) Sampai Keujung tanpa sedikitpun Terputus juga bisa disebut sebagai Pamor Wengkon. dengan urat urat besinya yang Lembut terasa licin ketika diraba , serta tatanan pamor yang mapan. Tidak ada cacat seperti "nerjang landhep", atau "pegat waja" (patah baja/besi) atau "pegat pamor" (terpotong pamornya), memiliki penampilan luwes dan sopan, serta ber-guwaya lembut. Sedikit aus atau korosi tentu dapat dimaklumi.
Dari Bagian bagian Bilah Keris Secara filosofis: pesi melambangkan lingga, ganja (dengan lubangnya) melambangkan yoni. Pesi dan ganja dengan demikian melambangkan kesuburan atau kelahiran. Artinya, inilah renungan tentang awal kehidupan. Pejetan melambangkan benih kehidupan. Ada juga yang mengartikannya sebagai “kerja keras” atau “pekerjaan yang telah ditunaikan”. Tikel alis berarti "alis terlipat" yang dimaknai sebagai dua alis menjadi satu. Dibutuhkan dua orang, dua sisi, satu rasa , suami dan istri, atau ayah dan ibu, yang saling menempelkan alis mereka berdua, lalu terjadilah apa yang selayaknya. Tikel alis ini melambangkan kesetiaan dan kasih sayang.
Makna Jalak sendiri merujuk pada Burung Jalak yang cerdas , Mampu menirukan suara burung lain membuatnya mudah beradaptasi . Hampir semua Jenis makanan seperti biji-bijian, buah-buahan dan Serangga menjadi makanan Burung jalak , sehingga Mudah mendapatkan Rizki. meski demikian tidak pernah membuatnya Sembrono. Burung jalak dituntut untuk Selalu menjaga Hubungan dengan Baik,dan pantang baginya untuk merugikan Orang lain.
Ketika burung jalak makan, Beberapa biji sengaja dijatuhkan ketanah, agar tumbuh dan Lestari menjadi benih baru . Lalu ketika burung Jalak makan buah ia hanya mengambil bagian yang sudah Matang saja . Beberapa serangga juga jadi makanan Burung jalak , terutama Serangga yang meresahkan Para Petani. Kesemuanya itu menggambarkan Pesan Tentang hubungan yang Saling Menguntungkan . Selain itu Burung jalak juga dianggap sebagai burung yang suci yang berarti hiduplah dengan bersih, dengan penuh kejujuran.
Selanjutnya Tilam yang berarti alas tidur, sedangkan Sari artinya Bunga /Penghias yang bermakna Keharuman, Ketentraman dan Kebahagiaan . Dengan demikian Tilam Sari artinya tidur dengan Rasa tenteram dan Bahagia , bermakna “ hiduplah dengan bersahaja “.
Bilah pada keris itu sendiri melambangkan "jalan kehidupan" pemiliknya. Bilah yang lurus melambangkan kehidupan yang lurus dan jujur. Untuk bilah ber-luk artinya pemilik pusaka harus menghindari setiap rintangan dan godaan hidup dengan bijaksana.
Ujung dari bilah adalah akhir kehidupan, saat-saat kita bertemu dengan Pencipta kita. Maka Tidak ada ujung panetes yang lurus dengan pesi pada keris Jawa, yang Kemudian Kita Mengenal Istilah “ Condong Leleh” atau tingkat kemiringan Antara Pesi ( tulangan Gagang) dengan Panetes ( ujung keris ) ; artinya Jangan Hanya Berhenti hanya di keris Saja.
"Aja mandheg nang keris, kowe bakal kesasar. Mandhega nang AKU, kowe bakal ketemu sejatine.
Jangan berhenti di keris, kamu akan tersesat. Berhentilah saat sampai pada AKU, kamu akan menemukan hakikatnya." (Mendiang KRT Projokardono)
Menemukan kesejatian adalah sebuah perjalanan yang penuh arti. Demikian konon orang Jawa memahami berbagai hal dalam kehidupan itu berselubung, tertutup oleh yang kasat mata. Maka ia harus dionceki, dikupas lapis-demi lapis sampai menemukan inti, sampai pada yang hakiki. Bagi mereka, dunia itu semu, akhirat itu yang sejati. Manusia itu semu, Gusti Allah-lah yang Sejati.
Maka hal yang semu itu tak terelakkan harus ada, sebab tanpanya kita sulit untuk sampai pada yang sejati. Untuk sampai kepada akhirat yang baik, orang harus menjalani hidup dunia dengan baik. Untuk mengenal Tuhan, manusia harus mengenal dirinya sendiri.
Lalu lahirlah ungkapan "Wong Jawa Nggone Semu" (Orang Jawa cenderung terselubung), "Sinamun ing Samudana" (Menyamarkan berbagai hal dengan pralambang), "Sesadone ingadu Manis" (Keadaan apa pun dihadapi dengan berusaha bermuka manis).
Orang Jawa mengenal parikan, dalam sastra juga ada yang disebut pantun. Pari dan pantun adalah kosakata Jawa Ngoko dan Krama untuk padi.
Menurut sebagian sejarawan, Pulau Jawa meminjam nama dari tanaman yang dulu banyak tumbuh padanya ini. Frasa 'Jawawut Dwipa' artinya pulau jelai/padi-padian.
Nah di sini menariknya tanaman padi. Kita bisa memperhatikan bagaimana pada mulanya ia mrekatak (hijau, tumbuh ke atas, tegak, menantang angkasa) lalu pada akhirnya ketika telah berisi ia justru merunduk, menghadap kepada akar, kepada asal, dan kepada tanah yang wulung dan suwung.
Pada saat ia mrekatak itulah gambaran keadaan semu. Dalam pantun, ia disebut 'sampiran'.
Dunia ini sampiran (sesuatu yang disampirkan di bahu dan kelak akan dipertanggungjawabkan), sekaligus ampiran, tempat mampir saja. Perjalanan akan berlanjut sampai ke yang sejati, untuk tumungkul, untuk merunduk, untuk menghayati sangkan paraning dumadi.
Jasadnya berasal dari tanah, nanti kembali ke tanah. Ruhnya berasal dari Allah, nanti kembali kepada Allah. Itulah isinya pantun, itulah pesan sebenarnya.
Keris dalam pandangan budaya Jawa juga mengandung sasmita tersebut. Ia juga merupakan pasemon. Warangka bisa dilihat sebagai sampiran, sebagai yang semu, menyamarkan bilah sebagai isi yang ada di dalamnya. Tetapi dalam yang semu itu pula tersimpan pesan yang berlapis-lapis, yang harus dionceki untuk sampai pada inti.
Diyakini, semakin tinggi pemahaman, semakin halus pula budi bahasa dan perilaku, maka semakin tersamar penyampaian suatu maksud. Inilah pola komunikasi dengan nyemoni, tidak lugas, bahkan kadang tidak verbal, simbol yang halus tanpa kata. Disemoni adalah diberi suatu pesan dalam tingkat tertinggi.
Sebagaimana keris dengan Jumlah Luk yang selalu ganjil artinya Manusia bisa merencanakan, namun hanya Pencipta yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas takdir. Dialah yang membuatnya genap. Dialah yang akan menyempurnakan segala ikhtiyar dengan hasil terbaik di sisiNya.
Nah, sekarang, kita dapat membaca "buku" yang ditulis Sang Empu dalam pusaka ini:
"Semoga engkau memiliki sifat welas Asih, dicintai Banyak Orang, murah sandang pangan dan jadilah Manusia Seperti apapun yang engkau Mau, syaratnya Berilah manfaat dengan Duniamu sendiri, tidak ada kemakmuran dalam hidup tanpa bekerja keras, sedangkan sifat jujur, sederhana , dan rendah hati serta menjalin hubungan dengan Baik adalah tangga Utama untuk Mencapainya . Berlakulah Setia dan curahkanlah rasa sayang untuk keluarga selalu. Tunjukkanlah kepedulian dan rasa welas asih kepada sesama dan selalulah ingat serta memuji Tuhan yang telah mencipta. Ingatlah selalu, semua yang hidup akan mati, dunia ini pun kesemuanya akan berakhir. Demikian juga engkau akan kembali padaNya untuk mempertanggungjawabkan semua ‘amal perbuatanmu, maka Bangunlah dengan semangat dan tidurlah dengan Bersahaja”
Dengan melihat keris ini, ataupun keris Apapun yang saat ini menjadi Ageman Kita Masing masing . pemilik pusaka yang bisa membaca pesan akan memahami pelajarannya. Dengan menyaksikan dan menyeksamai keindahannya berulang-ulang, pemiliknya akan tergerak dan terinspirasi untuk mengamalkan pengajaran dahsyat di dalamnya. Pada akhirnya, dia akan hidup dalam keadaan yang tenteram, merasa cukup, makmur, dan sejahtera. Itulah "tuah" keris yang sesungguhnya.
Inilah pusaka kandha. Pusaka yang berbicara memberikan pengajaran.
Jimat Ngucap Pusaka Kandha. Jika kita memperlakukan pusaka hanya sebagai jimat tetapi tidak pernah "membaca pesan-pesannya" dengan benar, kita mungkin hanya akan terjebak pada "jimat ngucap" dengan mengeja mantra seperti, “O, Kangjeng Kyai yang Agung, tolong beri kemakmuran dalam hidupku”, yang tentu saja bagi sebagian penganut agama akan bertabrakan dengan nilai-nilai keimanannya. Tetapi jika ia diperlakukan sebagai pusaka yang sebenarnya dan seutuhnya, pusaka yang 'kandha', kita bisa saja sesekali mengeluarkannya dari warangkanya, mengamatinya, dan membiarkan spirit ,pengajaran, serta Rekaman Do’a - do’a para leluhur itu meresap ke dalam hati dan pikiran kita, memotivasi, menginsipirasi, dan menuntun kita supaya istiqomah di jalan kebenaran dan kebajikan; untuk sampai pada apa yang dicita-citakan.
______________
Do’a dan Harapan Yang Terekam pada Pamor Nunggak Semi Winengku.
Nunggak semi Artinya Akar ( Tunggak ) yang Bersemi (Tumbuh / Bertunas) , Akar yang Kuat Menancap ketanah adalah Bagian Paling penting pada Pohon, ia Tidak terlihat Tetapi yang paling berjasa Ketika Hempasan badai menerpa. Akar juga bermakna Asal Usul, Orang Tua dan Para Leluhur ; Yang Membimbing , Merestui, serta Mendoakan, mewariskan hal-hal Baik agar Langgeng dan terus berkelanjutan.
Tumbuhnya Tunas Baru , dari akar asal-usul yang tertancap Kuat, Menciptakan Generasi Penerus yang Lebih Baik .
Winengku Sebagai Sipat Kandel, Wujud Kehati hatian dalam Ranah Taqwa.
Hormat Lebih diutamakan sebelum Patuh, maka BERTOSAN AJI yang Utama adalah RASA HORMAT, dari hulu hingga ke hilirnya.
Hormat kepada pembuatnya, kepada karya pusakanya, kepada pemegang-pemegangnya sebelum kita, lalu kepada diri kita sendiri dan sesama.
dengan bertosan aji kita menjaga diri kita agar terus berada dalam wewengkon 'sipat kandel', garis tebal yang menabiri kita dari memperturutkan hawa nafsu. Sebab memperturutkan hawa nafsu adalah jalan terjun bebas lepas dari kelayakan dihormati.
Ada hawa nafsu untuk meninggikan diri. Maka pusaka mengajarkan kita untuk tahu diri. Janganlah kita merasa, mengucap, dan bertingkah melebihi yang seyogyanya sesuai ilmu dan 'amal kita. Ada hal yang meskipun benar tetap tidaklah baik; yaitu memuji diri sendiri.
Di keping koin yang sama pada sisi lain, ada hawa nafsu untuk merendahkan orang lain dan segala yang melekat pada mereka. Maka pusaka mengajarkan kita untuk menahan diri. Sebab satu kekurangan orang yang kita tahu, bisa jadi menyembunyikan 1000 kelebihannya. Dan sebab satu kelebihan kita dibanding mereka, boleh jadi menabiri 1000 kekurangan kita.
Sebagai hobi; ilmu dan pengetahuan kita soal tosan aji harus terus bertambah, Rabbii zidnii 'ilmaa. Yang seharusnya menjadi bukti adalah juga pilihan-pilihan kita akan koleksi. Di sisi lain, persaudaraan dan penyebaran ajakan pelestarian juga harus terus meluas, didasari ketulusan hati.
Telah terlalu banyak pelajaran dari para sesepuh yang mendahului kita dalam keadaan sunyi; meski begitu banyak yang ingin dianggap akrab dan dekat selama hidup ketika dia berpengaruh dan jaya; tapi semua hanya soal kepentingan yang tak lagi tersisa setelah dia tiada…………..






Diskusi