CARA MEMILIH KERIS | Rasa dan Kawruh Tosan Aji

PENILAIAN KERIS DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG : RASA DAN KAWERUH

@Padhang Bulan



BAGIAN (1)


Setiap orang tentu memiliki preferensi masing-masing di dalam memilih keris; baik sebagai pusaka, koleksi, maupun hobi. Hal-hal yang menjadi pertimbangan bagi masing-masing tentunya banyak yang bersifat personal dan subjektif. Sudah seharusnya kita belajar untuk menghormati pilihan-pilihan sesama tersebut.


Di sisi lain, kita juga perlu terus mengasah pemahaman pribadi kita, agar pilihan-pilihan kita juga didasari referensi yang kokoh, adhedhasar wewaton yang telah dipakai para leluhur. Karena ketika pilihan-pilihan kita semakin didasarkan pada standar yang objektif, hal ini akan memudahkan orang lain untuk menghormati pilihan kita tersebut.


Berikut Beberapa Cara memilih keris


1. Penilaian keris versi Simpel : “tuhsirappuh” ( Tuh /utuh, Si/ besi baik ,Rap/ Garap baik, Puh/ Merujuk pada masa dibuatnya keris.


2. Versi dari KGPH Hadiwidjoyo 1959: “morjosingun


3. Versi dari BPH Sumodiningrat 1970: “yamorjosirap


4. Versi dari Ir. Haryono Harjoguritno 1989: “Tuhsirap puh morjoyongun ngguh”


5. Versi  rinci : “Tuhsirapmorpuh Jongun Dhatatingkarah Mpungguh”


Dari berbagai sudut pandang yang ada, terdapat irisan satu sama lain yang mengerucutkan kualifikasi dari keris yang menjadi pilihan para sesepuh kita yang memiliki pemahaman mendalam. Salah satu sesepuh perkerisan Indonesia, Alm. Ir. Haryono Haryo Guritno pada akhir-akhir merumuskan 14 hal berikut yang kiranya merangkum berbagai aspek kriteria pemilihan.


"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Yang pertama, Tuh (Wutuh). Keutuhan bilah adalah hal utama. Tidak pugut. Tidak gowang.  Tidak gempil. Bagian yang riskan tentu ricikan seperti sekar kacang, sogokan, dan pejetan. Kecuali gonja. Dalam tradisi Yogyakarta, penggantian gonja, semisal disalini gonja wulung di zaman terkemudian dengan maksud tertentu tidak termasuk ketidak-utuhan. Alm. KRT Hastananegara, sesepuh Paguyuban Pametriwiji konon pernah menyatakan, bagaimana pusaka akan diharapkan handayani jika dirinya sendiri saja tidak selamat dari kerusakan. Keris yang ditulis dengan 1 lembar kalimat yang berisi pesan/pitutur harapan dan doa yang tak henti henti kemudian disimbolkan pada setiap bagian bagian ricikan keris hingga terciptalah 1 jenis Dhapur lengkap dengan Perencanaan Pamornya.  apabila  dari 1 lembar kalimat itu  hilang / sobek tentu surat itu sudah sulit terbaca.

Yang kedua, Si (Wesi). Besi adalah salah satu unsur inti dari fisik pusaka yang sekaligus menjadi penanda kemaestroan sang Empu. Jika dalam mewasuh, mengolah, dan menguled besi saja belum baik, maka tentu hal-hal berikutnya seperti garap dan pamor menjadi dipertanyakan.

Sri Sultan HB VIII, masih menurut penuturan KRT Hastananegara berpendapat, besi adalah wadah sementara pamor adalah hidangan. Jadah sebagai makanan sederhana jika wadahnya piring keramik berglasur indah akan pantas disajikan kepada Raja. Sementara meski Kue Spekuk yang waktu itu hidangan kalangan atas, jika wadahnya cobek yang berjamur, kotor, dan grumpil tentu tidak pantas disajikan. Ada pula sesepuh yang mengumpamakan besi adalah halaman rumah, sementara pamor itu tanaman-tanaman hiasnya. Jika halamannya penuh sampah, njembrung, banyak rumput liar bosah-baseh; tentu tanaman hias mahal pun jadi tidak menarik. Tapi latar yang bersih dan rapi, sekedar tanaman sederhana pun menjadikannya terlihat asri dan menentramkan.

Secara tarikan, besi pusaka yang baik dalam tradisi para sesepuh di Yogyakarta terbagi dalam 3 kualifikasi; ngglali (seperti jenang gula), nyerat (berserat), dan nyabak (seperti sabak untuk menulis). Ketiga kualifikasi ini harus kita kenali dengan banyak menanting dan mengamati sample-sample yang benar agar terhindar dari besi yang nggrasak, yang mentah, berpori besar, dan lain sebagainya.

Secara tanjeg, aneka jenis besi yang memiliki berbagai karakter dalam tradisi lisan (Purasani, Karang Kijang, Balitung, Walulin, dll) yang telah di-saton diharapkan memiliki watak baru sesuai yang diharapkan dalam doa Sang Empu dan pemilik pusaka. Kemampuan mengenali hal ini kini sudah sangat sukar, sehingga banyak yang memilih mempergunakan 'rasa', seperti apakah kesan besi itu adhem, ngresep, mahanani, atau misalnya galak dan 'panas'.

Ket :  {Rap (Garap), Mor (Pamor), Puh (Sepuh), Jo (Wojo), Ngun (Wangun), Dha (Dhapur), Ta (Tantingan), Ting (Tintingan), Ka (Langka), Rah (Sejarah), Mpu (Empu), dan Ngguh (Mungguh)}


MEMILIH KERIS (Bag. 2)

"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."

Setelah kita membicarakan Utuh dan Wesi , maka yang berikutnya adalah Garap.

Secara sederhana, garap berarti menyeksamai bagaimana Sang Empu mengeksekusi aspek-aspek teknis dalam karyanya. Hal ini akan meliputi dua aspek; garap panas dan garap dingin. Pada garap panas bisa diteliti bagaimana garap uledan besi, pemasangan slorok baja dan tapihnya, hingga penataan pamornya. Sedang garap dingin tampak pada eksekusi bleger dari gonja, gandhik, hingga pucukan/panetes dan ricikan-ricikannya seperti pejetan, sogokan, tikel alis, sekar kacang, jalen, lambe gajah, greneng, dan sebagainya yang kelak juga akan berpengaruh pada pasikutan (kesan pertama yang terpancar dari keris ).

Garap pada dasarnya juga akan memperlihatkan karakter dari sebuah karya pusaka. Para sesepuh menggunakan metode 'niteni garap' hingga dapat menyimpulkan gaya era apakah yang dipakai (cakrik, tangguh) , dalam zaman apa,  serta di mana ia dibuat (tangguh, toya). Lebih jauh, kesimpulannya sampai pada Empu siapakah yang telah membuatnya. Karena setiap Empu maestro tentu memiliki 'signature' dalam berbagai sisi karya masterpiece-nya, seperti sebagian Empu Surakarta yang konon mengukirkan 'tanda-tangan'-nya pada bagian greneng ( terutama diaksara Dha ).

Hal ini menjadikan para sesepuh perkerisan sampai pada level 'kuratorial' untuk menentukan keaslian dan meneguhkan penangguhan tosan aji. Sebagaimana dalam lukisan, orang akan mengenal karakter karya Raden Saleh atau Affandi atau Sudjojono atau Hendra Gunawan atau Lee Man Fong, dan bisa menentukan orisinalitasnya. Beberapa bagian mungkin dapat ditiru, tapi tentu ada titik-titik kritis yang dapat dikenali dengan baik oleh mereka yang seksama.

'Niteni garap' adalah kunci. Tentu untuk bisa merasakan dan membedakan, menjadi keniscayaan bersering-sering menanting barang yang benar di bawah bimbingan guru yang benar. Semisalnya untuk niteni Keris Yasan Empu Ryokusuman atau empu srimanganti, orang harus sering niteni keris yang Jelas dan pener Yang memang di garap oleh Empu tersebut.

Kualifikasi berikutnya adalah Pamor. Secara umum, ada pamor jwalana alias tiban yang muncul tanpa direncanakan, ada pula pamor anukarta yang dirancang dan ditata sedemikian rupa untuk membentuk pola tertentu yang dikehendaki.

Jwalana berarti api, yakni pamor tersebut muncul ketika campuran besi mengalami pemanasan dan ditempa lipat berulangkali. Pamor seperti Ngulit Semangka, Tirta Tumetes, Wos Wutah, dan sebangsanya sering dimasukkan ke dalam jenis Jwalana, meski bisa juga pamor demikian dimunculkan dengan rancangan, seperti pada keris-keris era Nom-noman Surakarta dan Yogyakarta.


Secara teknis untuk menghasilkan pamor Anukarta, ada pamor mlumah di mana lapisan pamor dibuat membujur searah lebar bilah dan ada pula pamor miring yang dibuat melintang tegak terhadap bidang lebar bilah.


Kerumitan membuat pamor miring sebab harus menghitung cermat tempa lipatnya untuk menampilkan pola yang dikehendaki menjadikan sering dijumpainya keris berpamor miring yang besinya 'kalah', yakni kurang matang wasuhan dan tempaan sehingga lebih mudah tampak berpori atau terkorosi. Sebaliknya jika besinya matang, maka pamornya berantakan karena terus menerus ditempa lipat hingga rancangannya kacau. Maka pusaka pilihan yang disukai bisa dilihat pada pamor yang relatif berhasil sekaligus besinya ngglali, nyerat, atau minimal nyabak.  


Pamor dianggap sebagai salah satu unsur utama dalam sebuah tosan aji. 'Wesi duwe watak, dhapur mengku karep, pamor wis ngarani'. Artinya pamor adalah simbolisasi doa dan harapan yang disematkan ke dalam karya pusaka oleh Sang Empu. Kitab Jitapsara mengistilahkan pamor sebagai 'cahyaning wesi'.


Dalam tradisi Yogyakarta, pamor adalah bagian dari 'Landhep Lima'. Kedua sisi keris yang berpamor adalah pelengkap ketajaman depan, belakang, dan ujung bilah. Maka semua keris pusaka pilihan Kraton Yogyakarta diriwayatkan berpamor, meski sedikit atau sering disebut 'ceprit-ceprit', tidak ada yang kelengan. Adapun besi khusus seperti Purasani, atau yang secara populer disebut Hurab adalah besi berpamor.


Besi yang bersih yang padanya terdapat pamor bergradasi adalah pilihan yang disukai, bukan pamor yang monoton. Ada bagian pamor yang bernuansa hitam, kelabu tua, kelabu muda, putih, hingga putih keperakan. Istilah mandhes (terpatri kokoh), ngawat (berserat seperti utas kawat), ngindhen (berhologram), akhodiyat (lebih terang daripada yang di sekitarnya) dan sebagainya menjadi populer dalam hal ini.


MEMILIH KERIS (Bag. 3)


"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Setelah membahas Utuh dan Wesi pada Bag. 1, dilanjutkan Garap dan Pamor pada Bag. 2, maka kita sampai pada bahasan berikutnya, "Sepuh."


Dalam kawruh tradisional, pusaka sepuh dalam arti tua lebih diutamakan. Sebagaimana di Keraton-Keraton yang masih eksis, meski terus berkarya membuat pusaka dari Raja ke Raja sebagai tangguh nem-neman, pusaka-pusaka utama di Prabayeksa dan Prabasuyasa kebanyakannya tetap yang bertangguh tua seperti Jenggala, Pajajaran, Tuban, dan Majapahit, ataupun madya seperti Pengging, Demak, Pajang, dan Mataram.


Dalam perkembangannya, pusaka nem-neman juga menjadi pilihan yang bagus, terlebih bila merupakan yasan dalem para Raja yang mengukirkan kejayaan pada zamannya. Di Yogyakarta, Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono V berjuang meneguhkan kembali legitimasi Keraton sesudah Perang Diponegoro, sehingga pusaka-pusaka yasan-nya bernuansa laku tirakat. Adapun Sri Sultan Hamengku Buwono VII dipandang mengantarkan Yogyakarta ke era kejayaan sehingga pusaka yasannya bernuansa adiluhung dan yasan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dianggap pusaka wahyu sebab beliau menjadi Raja setelah 3 putra mahkota sebelumnya gagal menaiki dhampar. Demikian pula gambaran Sinuwun Paku Buwono IX sang pembangun kedhaton yang tapa prihatin dan Sinuwun Paku Buwono X yang minulya saha wicaksana.


Membahas 'sepuh' biasanya juga dikaitkan dengan Tangguh. Menangguh bisa diartikan mengira-ira berdasarkan suatu pengamatan ini berlaku Untuk keris yang terlalu tua ataupun setelahnya dengan asal usul yang memang sudah terputus. Dalam tradisi Yogyakarta, tangguh diartikan sebagai 'cakrik' atau gaya yang bersesuaian dengan kekhasan suatu era. Di Surakarta ada Serat Panangguhing Dhuwung yang memberikan uraian ciri garap keris setiap zaman disertai ciri materialnya pula sehingga pengertian tangguh juga mencakup perkiraan era pembuatan, sampai empu Pembuat dilihat dari cirikhasnya.

Dalam hal ini, tradisi Yogyakarta punya kriteria 'toya' sebagai pelengkap dan pemerinci tangguh. Toya artinya air, yang berarti secara saklek menetapkan asal dan zaman pembuatannya. Misalnya kalau di Surakarta menangguh disatukan sebagai "Tangguh Majapahit". Di Yogyakarta bisa diperinci "Tangguh Majapahit, Toya Majapahit" ataukah "Tangguh Majapahit, Toya Mataram."

"Tangguh Majapahit, Toya Mataram" berarti keris tersebut dibuat dengan cakrik/gaya Majapahit, tapi dari ciri material besi dan pamornya dapat ditetapkan bahwa ia dibuat di era Mataram, bukan era Majapahit yang akan disebut "Tangguh Majapahit, Toya Majapahit". Hal ini sering membingungkan sebagian penangguh jika masih menggabungkan definisi cakrik dan era.


Jika tangguh suatu keris sangat kokoh dan mustahil dibantah, asal usul yang masih jelas , maka disebut "Tangguh Lempoh", atau sering juga dikenal istilah "Tus!". Keris-keris bertangguh lempoh biasanya Masih Tertera Nama Gelar Pemberian dan masih berada di dalam atau sekitar Keraton dan kerabat Raja , menjadi pusaka sinengker, atau jika keluar jatuh ke tangan para kolektor yang mumpuni ilmu serta kemampuan finansialnya. Namun pada akhirnya sang Pusaka Itulah Yang Memilih Tuannya sendiri, tentang bagaimana ia Berpindah Tangan Mungkin akan kita Bahas dilain waktu.

Dalam memilih pusaka disarankan untuk menghindari keris yang 'tilar tangguh'.  Tilar tangguh artinya tidak bisa ditangguh karena beberapa sebab. Bisa karena kualitas material besinya nggrasak, seperti keris cor atau keris cetakan yang sebenarnya tidak bisa di sebut sebagai keris karna Belum memenuhi klasifikasi dasar tentang pembuatannya .

Adapaun yang sudah mememnuhi kriteria dasar ( minimal 2 bahan yang ditempa ) namun wasuhannya buruk dan jauh dari kriteria ngglali, nyerat, dan nyabak biasanya juga sulit di tangguh. Atau pamornya aneh, mbojeh, welu dan sebagainya. Atau garap ricikan seperti sogokan, tikel alis, dan pejetan tidak simetris, luknya aneh, serta proporsinya tidak seimbang. Atau jika dirujukkan ke pakem tangguh ia membingungkan, tidak ada gaya keris yang masuk dari semua era Tangguh. semisalnya : Bentuk bagian ini seperti tangguh A, tapi itunya mendekati tangguh B, besinya mirip tangguh C, tapi pamornya serupa tangguh D. Bisa juga tilar tangguh karena ia produk luar beteng , sekalipun itu keris sepuh, jika dibuat oleh Empu diluar kraton yang kurang memahami ilmu keris maka ia dibuat  alakadarnya Sekedar untuk menyenangkan orang awam dengan harga pesan yang rendah sebab Target Pasarnya memang orang orang yang kurang tau soal keris. 

Penangguhan keris sebenarnya tidak jauh berbeda ketika melihat ciri fisik seseorang, seperti Membedakan orang Asia dengan orang eropa tentu berbeda, mulai dari anatomy/ricikan Hidung, mata, dagu, rambut atau bahkan warna kulit.


Membahas keris yang dibuat diluar keratob, Bukan berarti semua Keris buatan luar keraton itu kurang Baik , ada juga  beberapa Empu luar yang garapnya munpuni namun ini berlaku untuk keris kamardikan/ Baru dengan pemahaman tentang keris sat ini  yang bisa diakses oleh Umum.

Dari sinilah kita memahami bahwa keris yang baik Tidak Hanya soal Tua dan Baru, ada keris sepuh yang kurang baik,ada keris sepuh yang baik . Begitupun dengan keris kamardikan/ keris Baru:

Yang perlu diperhatikan beberapa keris kamardikan Juga dapat diowah atau sengaja dibuat seperti besi Tua,  atau keris yang memang Tua tapi kurang jadi daforit kemudian diowah-owahi sedemikian rupa menjadi dhapur faforit . Jika niatnya untuk dagang ini sangat tidak diperkenankan karna dapat merusak makna , mangkaburkan sejarah, dan merusak Citra berkeris.


Kemudian Selain sepuh yang merujuk pada usia . Secara teknis, sepuh juga bisa dimaknai proses 'quenching'. Tujuannya untuk mengubah kristal ferrite dan pearlite pada besi yang bersifat lebih lunak menjadi kristal martensit yang lebih keras. Caranya dengan memanaskan bajanya hingga titik kritis, lalu didinginkan dengan cepat dengan media tertentu. Teknik quenching pada masa lalu melahirkan banyak hikayat seperti sepuh dilat (dengan lidah Sang Empu), sepuh kempit, dan lain sebagainya. Tentu ini berbeda lagi dengan pengertian "sepuh" sebagai teknik plating untuk melapisi permukaan logam dengan logam lain seperti emas.


MEMILIH KERIS (Bag. 4)



"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Setelah membahas Utuh dan Wesi pada tulisan Bag. 1, dilanjutkan Garap dan Pamor pada Bag. 2, lalu Sepuh pada Bag. 3, kita lanjutkan dengan bahasan tentang Wojo dan Wangun.


Wojo atau Baja adalah unsur penyusun tosan aji yang berperan dalam ketajaman atau landhep-nya, melengkapi besi sebagai pengikat utama dan pamor sebagai bahan pencampur yang memiliki nuansa warna. Baja bersifat tajam dan keras, namun getas. Besi wasuhan yang baik akan menjadi pengikat yang liat, lentur, dan kuat. Pamor pada hakikatnya adalah besi juga, yang memiliki kandungan tambahan seperti nikel atau unsur lainnya sehingga memiliki karakteristik khas. Tosan aji yang baik biasanya terdiri atas baja, beberapa jenis bahan pamor, dan beberapa jenis bahan besi sekaligus….


Dalam kawruh di Yogyakarta, tosan aji yang baik seyogyanya memiliki Landhep Lima, atau lima sisi tajam. Tiga sisi tajam tentu sudah kita fahami yakni panetes/pucukan, sisi kanan, dan sisi kiri bilah yang ditentukan oleh Wojo atau bajanya. Adapun dua sisi tajam yang lain adalah landhepnya pamor yang terletak di sisi depan dan belakang bilah. Landhep dalam pamor pada dasarnya bermakna 'tegas'. Yakni betul-betul bisa terlihat perbedaan antara mana besi dan mana pamornya; uledan besinya matang dan pamornya mapan.


Secara teknis, baja ditempatkan sebagai slorok di bagian inti bilah. Tosan aji yang baik mengandung slorok baja yang bagus, yakni yang dibuat dari besi dengan kadar karbon mencukupi untuk kekerasannya. Ini hendaknya dibedakan dari besi yang tinggi kandungan P (Phosphor)-nya yang mirip baja namun sebenarnya bukan baja, biasanya dikenali dari pori dan warnanya yang keruh. Kehadiran slorok baja kadang dapat terlihat dari nuansa warna yang berbeda dari lapisan besinya di tepi bilah. Ada slorok yang berwarna Hitam kehijauan, kecoklatan, kebiruan, ada juga slorok yang berwarna Putih klawu, abu abu, dan lar Gelatik ( seperti warna Bulu burung gelatik).


Adapun Wangun adalah kualifikasi keseluruhan dari garap. Sesuatu yang wangun itu pas. Jika dikurangi akan gothang. Jika ditambah akan berlebihan. Kita secara kualitatif bisa mengenali wangun pada dedegnya keris dengan melihat proporsi panjang dan lebar gonja dibanding tinggi dan lebar bilah. Apakah sekar kacangnya wangun, atau terlalu kurus, atau terlalu menjuntai. Apakah luknya, baik itu yang kemba ataupun yang rengkol, terasa harmonis. Apakah sogokannya terlalu lebar, apakah dering janurnya presisi, dan seterusnya.


Dasar dari wangun adalah alam ciptaan Gusti Allah, terutama tubuh manusia, karena pusaka adalah gambaran dari kehidupan ini. Proporsi-proporsi wajah, badan, dan anggota gerak dapat dijadikan cermin berbagai ricikan pusaka. Mengenali wangun ini banyak mengandalkan rasa. Dan rasa bisa ditajamkan dengan pengetahuan, pengalaman, dan penghayatan.


MEMILIH KERIS (Bag. 5)



"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Setelah membahas Utuh dan Wesi pada tulisan Bag. 1, dilanjutkan Garap dan Pamor pada Bag. 2, lalu Sepuh pada Bag. 3, kemudian tentang Wojo dan Wangun pada Bag. 4, sekarang kita lanjutkan bahasan tentang Dhapur, Tantingan, Tintingan, dan Langka.


Dhapur keris yang beragam menunjukkan ketelitian leluhur kita dalam mengekspresikan "karep" atau maksud dari seorang yang berpusaka, sesuai dengan adagium "Dhapur mengku karep, wesi duwe watak, pamor wis ngarani." Perubahan keberadaan satu ricikan kecil semisal jumlah lambe gajah, jumlah sogokan, adanya thingil, adanya greneng dan lain sebagainya menjadikan satu tipologi bentuk keris tak lagi sama namanya dan tentunya mengandung filosofi 'karep' yang berbeda pula.


Dalam memilih dhapur pusakanya, orang Jawa sering mengambil referensi dari pusaka-pusaka di Keraton. Ketika diketahui bahwa pusaka utama Keraton Yogyakarta, Kanjeng Kyahi Ageng Kopek berdhapur Jalak Sangu Tumpeng misalnya, dhapur ini menjadi favorit. Dari segi 'karep', tentu orang yang sedang merantau, meniti karier dan sebagainya merasa dhapur JST merepresentasikan jalan hidup yang sedang ditempuhnya. Dhapur Mahesa juga banyak dipilih mengingat di Surakarta maupun Yogyakarta juga ada pusaka berdhapur Mahesa.


Keseimbangan juga menjadi faktor pertimbangan lain. Memiliki dhapur Tilam Upih konon merepresentasikan karep yang santai, nglaras, menikmati apa yang ada dengan penuh syukur. Agar seimbang, sebagian orang percaya untuk memadukan dhapur Tilam Upih dengan dhapur Sengkelat yang mewakili karep bergelora di dalam dada, penuh motivasi, dan semangat membara.


Tantingan adalah pilihan berdasarkan kenyamanan menanting bilah pusaka. Meski pada dasarnya hal ini terkait keseimbangan rancang bangun keris seperti massa, titik berat, hingga ergonomika, namun faktor rasa juga dominan. Tidak selalu keris yang ringan nyaman ditanting, dan keris yang berat juga dapat dirasa nyaman tantingannya.


Tintingan adalah suara yang ditimbulkan dari jentikan kuku jari pada bilah. Pada masa lalu, para sesepuh menjadikan tintingan sebagai salah satu ciri untuk mengenali jenis besi sebagai bahan tosan aji. Misalnya besi Karang Kijang disebut bunyinya "breng ngeng ngeng kaya tawon". Besi Purasani berbunyi "gur". Besi Walulin "gung". Besi Katub "kung, mbrengengeng". Besi Winduadi "dhung". Besi Tumpang "jrung". Dan sebagainya. Di masa kini, sebagian sesepuh jika meninting menandai bunyi bergema dan getarannya untuk mengenali besi yang wasuhannya bagus.


Kelangkaan dipilih biasanya sebagai pertimbangan koleksi. Karena memiliki yang "tidak ada duanya" adalah sebuah prestise tersendiri. Dan biasanya berharga tinggi. Tentu hal ini sah-sah saja, meski harus diingatkan bahwa terlalu mengejar yang langka bisa membuka peluang terblondrok dan semacamnya. Toh pusaka-pusaka di Keraton banyak yang dhapurnya 'sejuta ummat' seperti Tilam Upih, keluarga Jalak, dan Sengkelat meski ada juga yang unik-unik.


MEMILIH KERIS (Bag. 6)


"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Setelah membahas Utuh dan Wesi pada tulisan Bag. 1, dilanjutkan Garap dan Pamor pada Bag. 2, lalu Sepuh pada Bag. 3, kemudian tentang Wojo dan Wangun pada Bag. 4, sudah pula tentang Dhapur, Tantingan, Tintingan, dan Langka pada Bag. 5, kini kita masuk pada pembahasan Sejarah.


Pusaka yang menyertai peristiwa sejarah tentu memiliki nilai tersendiri. Kanjeng Kyai Ageng Pleret, Kanjeng Kyai Ageng Kopek, Kanjeng Kyai Ageng Jaka Piturun, Kanjeng Kyai Ageng Baru, Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat, Kanjeng Kyai Ageng Bethok, Kanjeng Kyai Klerek, dan sederet pusaka utama Keraton lainnya diutamakan dan dimuliakan antara lain karena keterlibatannya dalam sejarah Keraton baik berdiri maupun perkembangannya.


Meski demikian, KRT Kusumanegara dalam salah satu sarasehan Pametriwiji memberi catatan bahwa, ceritera bisa mengikuti namun pilihan pusaka Keraton lebih didasarkan pada adiluhungnya pusaka tersebut dari besi, garap, pamor, yasan, dan aspek mahanani-nya. Sebagai contoh dikisahkan bahwa Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono I melihat tumpukan bangkai burung di mana tiap burung yang lewat akan jatuh dan mati di tempat tersebut. Setelah dititipriksa didapati bahwa di bawahnya terdapat pusaka keris berdhapur Jalak Dinding yang nantinya bergelar Kanjeng Kyai Ageng Jaka Piturun. Namun secara objektif akan didapati bahwa besi, garap, pamor, dan aspek kepusakaan keris tersebut memang level masterpiece. Inilah yang lebih utama dijadikan pertimbangan, meski tentu sejarahnya tak dapat diabaikan dan menjadi nilai tambah yang signifikan.


Dalam konteks di luar pusaka keraton; apakah memahari pusaka berhakikat hanya membeli barangnya, ataukah juga membeli cerita sejarahnya? Jika tidak ada kesaksian tepercaya dan tidak terdapat bukti yang shahih dari cerita yang dituturkan dalam pemaharan, tentu jauh lebih aman untuk selalu berpatokan pada yang pertama. Barang yang berkualitas, material berkualitas, dan garap berkualitas adalah kuncinya. Nilailah harga rasional dari apa yang tampak, demikian para senior tosan aji selalu berpesan.

Tetapi jika riwayat suatu pusaka dapat dilacak dengan baik, tentu sudah sejak dahulu orang Jawa menjadikannya sebagai pertimbangan dalam mengambil alih suatu pusaka keluarga (family heirloom).

Dalam 'History Of Java', Sir Thomas Stamford Raffles menulis:

"The price of a kris blade, newly manufactured, varies from half a rupee to fifty dollars, but the same kris, if it is of good character, and if its descent can be traced for three or four generations, is frequently prized at ten times that sum."


Artinya; "Harga sebilah keris, yang baru diproduksi, bervariasi dari setengah rupee hingga lima puluh dolar. Tetapi keris yang sama, jika karakternya bagus, dan jika riwayat kepemilikannya dapat ditelusuri selama tiga atau empat generasi, sering dihargai sepuluh kali lipat dari jumlah itu."


Kualifikasi 'pusaka mahanani' yang sering diartikan sebagai, "mampu menciptakan suasana positif bagi pemiliknya", diketahui antara lain dengan melihat sejarah kehidupan pemilik sebelumnya, bila mungkin, hingga 3 generasi sebelumnya.


Jika pemiliknya menjalani hidup yang baik, tidak ada kejadian aneh, kajen, terjaga kehormatannya dalam pergaulan, tenteram dalam keluarganya, dan lain sebagainya, syukur-syukur hingga beberapa generasi, maka diharapkan pusaka yang dimiliki jalur keturunan sedemikian layak untuk dilanjutkan merawatnya dengan sebaik-baiknya. Tentu tetap senantiasa disertai doa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar memberikan barakah pada pemaharan dan perawatan tersebut bagi semua pihak.


MEMILIH KERIS (Bag. 7)



"Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh."


Setelah membahas Utuh dan Wesi pada tulisan Bag. 1, dilanjutkan Garap dan Pamor pada Bag. 2, lalu Sepuh pada Bag. 3, kemudian tentang Wojo dan Wangun pada Bag. 4, sudah pula tentang Dhapur, Tantingan, Tintingan, dan Langka pada Bag. 5, menyusul Sejarah pada bagian 6, kita masuk pada bagian 7 tentang Empu dan Mungguh. Inilah akhir pembahasan berseri dari aspek pemilihan keris yang dikemukanan Alm. Haryono Haryo Guritno. Kadang Sutresna dapat mencari bagian sebelumnya (1-6) di postingan grup ini.


Empu adalah sosok di balik keris. Maha Empu yang membuat pusaka pada masa lalu tentu memiliki kualifikasi yang amat mumpuni, khususnya dalam bidang-bidang berikut ini:


1. Penguasaan paripurna dalam aspek teknis pembuatan senjata tajam. Hal ini mencakup memilih material, mempersiapkannya, mengolah, menempa, melakukan penggarapan kondisi dingin, dan memahami seluk-beluk tempering, hingga quenching. Pada zaman dahulu, pengetahuan akan hal-hal ini diwariskan secara ketat dan tertutup dalam dinasti Empu. Sebagaimana di masa kini, pembuatan senjata berdaya kuat semisal bom nuklir juga amat sangat dirahasiakan, maka teknis pembuatan keris berkualifikasi pusaka pada masa lalu pun demikian.


2. Penguasaan paripurna dalam bahasa simbolis dan filosofis keris pusaka. Ini mengapa misalnya keris berdhapur Naga langka karena pada suatu masa dia hanya dibuat atas pesanan dan untuk keluarga kerajaan. Semua Maha Empu akan menolak siapapun yang tidak berhak untuk menyandang suatu dhapur atau pamor tertentu. Maka seorang Empu pasti akan menggali data tentang pemesan pusakanya; tanggal lahir, silsilah keturunan, pekerjaan, dan apa yang menjadi cita-citanya. Maka sang Empu lalu memilihkan untuknya dhapur dan pamor yang dianggap sesuai dan layak.


3. Penguasaan paripurna tentang citarasa seni. Hal ini terkait penggarapan proporsi, keseimbangan, keselarasan, dan keindahannya. Pada masa lalu, para Empu mendapatkan akses ke Gedong Pusaka Keraton untuk dapat mengamati dan mempelajari bilah-bilah pusaka dari zaman sebelumnya, menguasainya dengan baik, lalu menjadikannya sebagai acuan untuk membuat karya baru sesuai eranya. Praktek ‘mutrani’ juga menjadi pola belajar semacam ‘benchmarking’ untuk mencapai masterpiece-nya sendiri.


4. Memiliki kapabilitas spiritual yang ditandai dengan antara lain keyakinan yang kokoh, ibadah yang terjaga, dan budipekerti yang luhur. Rekam jejak yang tanpa cacat dalam hubungan vertikal maupun horisontal sangat ditekankan.


5. Memiliki akses terhadap material-material terbaik yang diperlukan. Besi terbaik, baja terbaik, dan bahan pamor terbaik pada masa lalu tentunya dikuasai dan ditutup aksesnya dari khalayak umum oleh Raja, sebagaimana Uranium ataupun Plutonium pada hari ini. 


Demikianlah kualifikasi seorang Maha Empu pembuat pusaka pada masa lalu yang memang hanya dapat dicapai oleh sedikit orang saja. Dan tentunya pada masa itu, Keraton memang selalu mencari dan mempekerjakan hanya yang terbaik di antara semua Empu yang ada. Maha Empu yang menolak untuk bekerja kepada Raja, tentu akan dianggap sebagai sebuah pemberontakan yang harus ditumpas, sebab potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya jika dia bekerja pada pihak lain.


Apakah mudah memperkirakan Empu pembuat sebilah keris dari masa lalu? Beberapa Empu memiliki karakater khas bahkan konon signature khusus dalam karyanya, baik dalam pilihan material besi yang digunakan, kualitas wasuhan, garap pamornya, hingga ricikannya. Orang bisa dengan mudah mengenali karya Empu Pangeran Sedayu, atau Empu Pitrang, Ki Koso, Hangga, atau Ki Nom, Guling, hingga Brajaguna dengan melihat besi dan pamor. Empu-empu Surakarta seperti Japan, Jayasukadga, Wirasukadga dan lainnya  konon bisa dengan mudah dibedakan karyanya dari bentuk huruf Dha pada greneng karya mereka. Mengetahui Empu pembuat keris yang kita miliki menambah kemantapan pilihan akan pusaka.


Aspek terakhir adalah Mungguh atau kesesuaian antara pusaka dengan pemegangnya. Ketika ia dibuat oleh seorang Empu atas pesanan khusus, maka tentu pusaka itu disesuaikan dengan sang pemesan dalam beberapa aspeknya, dari dimensi hingga karakter yang bersangkutan, sekaligus dirancang untuk mengakomodasi harapan, cita-cita, serta nilai filosofis dan ajaran adiluhung yang hendak diwariskannya dari generasi ke generasi. Maka bagi mereka yang jeli, mengetahui dan mengamati pusaka seseorang berarti mengungkap pandangan filosofisnya, niat-niat hatinya, pengetahuan dan wawasannya, serta bahkan identitas dan rahasia-rahasia pribadinya.


Karenanya, bagi orang Jawa pada masa lalu, pusaka sewajarnya disinengkerkan, dirahasiakan dari pandangan umum. Bahkan bila perlu dipakaikan gonja wulung yang polos untuk menyamarkan dhapur dan pamor dari bilah di dalam warangkanya. Sebab, membiarkan pusaka terekspos oleh pandangan khalayak ramai, sama saja membiarkan diri tampil telanjang. Seakan-akan dapat dilihat segala kelebihan dan kekurangan pribadinya, dan bahkan dapat diketahui segala harapan, rencana-rencana, beserta langkah, strategi, dan taktik yang akan ditempuhnya ke depan untuk mewujudkan semua itu. Di masa kini, barangkali sebagian hal di atas tidak dianggap relevan lagi.


Walhasil, pusaka itu pada dasarnya jelas. Jelas besinya. Jelas pamornya. Jelas sandangannya. Jelas Empu dan riwayat akan menjadi tambahan referensi berharga pula.



MERASAKAN PUSAKA

(Gebyar, Guwaya, Wingit, Wibawa)


Setelah memilih keris dengan kriteria terukur "Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh" seperti kita bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, Alm. Bapak Haryono Haryo Guritno menyarankan kita untuk berinteraksi dengan pusaka dengan melibatkan hal yang sifatnya batin dan perasaan, sebagaimana para sesepuh di Yogyakarta menyebut ketika menyilakan kita menanting sebilah keris, "Sumangga, dipun raosaken."


Penggunaan rasa batin di sini karena memang sesudah kriteria pilihan dalam segi fisik, kita perlu mendekati keris pada aspek-aspek yang tidak secara langsung dapat ditangkap oleh panca indra. Sebagus apapun tampilan fisik sebilah keris, pada akhirnya seringkali yang menjadikan kita merasa 'kagum', 'suka', lalu 'cocok', dan akhirnya 'nyaman' sukar dijelaskan secara rasional. Aspek-aspek pesona keris tersebut antara lain adalah gebyar, guwaya, wingit dan wibawa.


Kalau "Tuh, Si, Rap, Mor, Puh, Jo, Ngun, Dha, Ta, Ting, Ka, Rah, Mpu, Ngguh" kita jadikan dasar kriteria memilih yang objektif sehingga pilihan kita aman secara nilai dan kualitas, maka G-G-W-W menjadi pijakan berikutnya untuk berbahagia dalam berpusaka.


GEBYAR

gêbyar ꦒꦼꦧꦾꦂ

kn: 1 sorot satleraman; 2 kaendahan kang katon ing lahir; gumêbyar: sumorot padhang; sa-[x]-an: sakêlapan, satleraman. (Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters)


gebyar ii 1 Hat cahaya; 2 keindahan luar; keadaan luar;  

gebyar-gebyar a bersinar-sinar; berkilauan;  

sagebyaran adv sekilas; selayang pandang;  

gumebyar v bersinar terang

(Kamus Jawa Indonesia)


Dengan demikian keris yang gebyar adalah yang memiliki kilatan sinar, memancarkan keindahan lahiriah yang memukau, dan membuat kagum. Seperti pada manusia, gebyar bisa disebabkan apa yang dipakai. Demikian pun pada keris, pemilihan sandangan sebagai bentuk pemuliaan bisa menambah gebyar, meski hakikatnya keris itu sendirilah yang memancarkan pesona pribadinya.


GUWAYA 

guwaya ꦒꦸꦮꦪ

kn. 1 cahyaning praèn; 2 mawa cahya (warna) sing nandhakake waras. (Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters)


guwaya n air muka; warna muka  (Kamus Jawa Indonesia)


Keris yang berguwaya adalah yang memiliki kesan raut berseri-seri, seperti wajah orang yang sehat serta bersemangat, memiliki greget dan tampak antusias. Tidak pucat dan lemah seperti orang yang sedang sakit. Dalam hal guwaya, kualitas wasuhan besi dan pamor ikut memberi andil. Namun akhirnya, ia tetaplah kesan yang muncul dari dalam sang pusaka itu sendiri.


WINGIT

wingit ꦮꦶꦔꦶꦠ꧀

kn. 1 angkêr, wêrit tmr. panggonan; 2 tajêm mawa prabawa tmr. praèn (Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters)


wingit a 1 keramat; angker; berpuaka; 2 tampak menakutkan (tt muka) (Kamus Jawa Indonesia)


Jadi keris yang wingit adalah yang membawa kesan membuat segan, membuat takut berbuat macam-macam, menjadikan orang menghindari hal yang tidak-tidak, memancarkan pesan agar jangan berlaku sembarangan. Keris yang wingit bisa saja menampilkan kesederhanaan dalam pamor ataupun ricikan, meski bisa juga ia muncul karena detail tertentu yang istimewa.


WIBAWA

wibawa ꦮꦶꦧꦮ 

(S) kw. kaluhuran, kamulyan, kasêktèn, kuwasa; mukti [x]: ngrasakake kaluhuran (kamulyan lsp), mukti bangêt. (Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters)


wibawa n wibawa; kemuliaan; kuasa;  

kawibawan n kewibawaan; kemuliaan; keluhuran; kemuliaan (Kamus Jawa Indonesia)


Jadi keris yang wibawa adalah yang memancarkan aura keluhuran, kemuliaan, dan kekuasaan. Ia menunjukkan diri sebagai sesuatu yang bersifat mendominasi. Bedanya dengan wingit; wingit itu menghalangi hal buruk dengan rasa takut, sedangkan wibawa menenggelamkan semua hal jelek dalam pancaran pesonanya. Ibarat bahkan karena terpaku oleh keluhurannya, orang tak sempat membersit niat buruk di hatinya.


ORDER VIA CHAT

Produk : CARA MEMILIH KERIS | Rasa dan Kawruh Tosan Aji

Harga :

https://www.padhangbulan.com/2026/07/cara-memilih-keris-pusaka-penilaian.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi