Warangka Tanduk Ukir Gayaman Ngayogyakarta
Rp4.500.000
Warangka Gayaman Ngayogyakarta
Bahan: Tanduk Mahesa (Kerbau) pilihan
Motif Ukiran Warangka:
* Hobo (Lambang Keraton Ngayogyakarta)
* Kala
Motif Ukiran Deder:
* Putri Kinurung
* Motif Kala
Garap:
* Handmade oleh mranggi berpengalaman
* Detail ukiran halus, presisi, dan eksklusif
* Mengikuti pakem tradisional perkerisan Nusantara
* Finishing dikerjakan dengan ketelitian tinggi sehingga menampilkan karakter alami tanduk Mahesa.
Bahan: Tanduk Mahesa (Kerbau) pilihan
Motif Ukiran Warangka:
* Hobo (Lambang Keraton Ngayogyakarta)
* Kala
Motif Ukiran Deder:
* Putri Kinurung
* Motif Kala
Garap:
* Handmade oleh mranggi berpengalaman
* Detail ukiran halus, presisi, dan eksklusif
* Mengikuti pakem tradisional perkerisan Nusantara
* Finishing dikerjakan dengan ketelitian tinggi sehingga menampilkan karakter alami tanduk Mahesa.
Warangka Gayaman Ngayogyakarta Tanduk Mahesa Ukir Original
Sebuah warangka bukan sekadar sarung keris. Ia adalah karya kriya adiluhung yang menyatukan keindahan, tradisi, dan filosofi kehidupan. Setiap garis ukiran, setiap lekuk bentuk, hingga pemilihan materialnya menyimpan makna yang diwariskan turun-temurun oleh para empu dan mranggi Nusantara.
Warangka Gayaman Ngayogyakarta ini dibuat secara handmade oleh mranggi berpengalaman dengan tetap menjaga tipologi, ricikan, pakem, serta nilai-nilai tradisi perkerisan Jawa. Hasilnya adalah sebuah warangka yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga layak menjadi pelengkap keris Pusaka Klangenan Panjenengan.
Keistimewaan Bahan Tanduk Mahesa
Sejak berabad-abad lalu, tanduk Mahesa (kerbau) telah menjadi salah satu material utama dalam pembuatan prabot keris, baik untuk warangka maupun deder.
Berbagai warangka berbahan tanduk ditemukan pada keris-keris bertangguh Kulonan (Kasultanan Cirebon–Banten), Jawa Timuran, lingkungan Keraton Sumenep, keris Melayu, hingga berbagai tradisi perkerisan Nusantara lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tanduk Mahesa telah digunakan setidaknya sejak abad ke-15 hingga ke-16, berdampingan dengan material bernilai tinggi seperti cula dan gading yang telah dikenal sejak masa Majapahit. Hal ini selaras dengan catatan Ma Huan, penulis kronik ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada masa Dinasti Ming (1368–1644), yang mencatat penggunaan berbagai material bernilai tinggi dalam budaya Berkeris di Nusantara.
Selain memiliki nilai historis, tanduk Mahesa juga dipilih karena karakter materialnya yang sangat ideal untuk prabot keris.
Keunggulan Tanduk Mahesa
✔ Serat alami yang unik sehingga setiap warangka memiliki karakter yang berbeda.
✔ Kuat, padat, serta awet digunakan dalam jangka panjang.
✔ Menghasilkan kilau alami yang semakin indah seiring usia dan pemakaian.
✔ Ringan namun kokoh sehingga nyaman digunakan sebagai prabot keris.
✔ Material autentik yang telah digunakan turun-temurun dalam budaya perkerisan Nusantara.
✔ Memiliki nilai artistik dan koleksi tinggi karena tidak ada dua potong tanduk yang memiliki pola serat yang benar-benar sama.
Setiap bahan dipilih dengan penuh ketelitian, kemudian dikerjakan oleh tangan-tangan mranggi yang memahami adab, pakem, dan filosofi perkerisan. Perpaduan keindahan alami tanduk Mahesa dengan ukiran halus menghasilkan sebuah karya kriya yang memancarkan kemuliaan budaya Nusantara.
---
Filosofi Ukiran Hobo
Lambang Keraton Ngayogyakarta
Ukiran “Hobo” merupakan stilisasi dari lambang Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kehadirannya bukan sekadar ornamen, melainkan simbol keterhubungan dengan tradisi luhur Mataram yang menjunjung tinggi keseimbangan antara lahir dan batin, kekuasaan dan kebijaksanaan, serta manusia dengan Sang Pencipta.
Dalam dunia perkerisan, lambang ini menjadi pengingat bahwa keris bukan hanya benda pusaka atau karya seni, melainkan bagian dari warisan budaya yang dibangun di atas nilai unggah-ungguh, tata krama, pengendalian diri, dan keluhuran budi.
Menggunakan warangka dengan ukiran Hobo merupakan penghormatan terhadap tradisi Keraton Ngayogyakarta yang hingga kini tetap menjaga keberlangsungan budaya Jawa sebagai sumber adab dan kebijaksanaan.
Filosofi Ukiran Kala
Banyak orang menganggap “Kala” dan “Makara” adalah simbol yang sama. Padahal keduanya memiliki bentuk dan makna yang berbeda.“Kala” adalah sosok raksasa berwajah garang yang melambangkan “Sang Waktu”—kekuatan yang terus berjalan dan memakan apa saja yang ia lewati.
Sebaliknya, “Makara” adalah makhluk mitologis kendaraan para dewa yang berwujud perpaduan berbagai hewan seperti kepala Gayah,Buaya,atau Rusa dengan Bagian Ekor menyerupai ikan,naga,atau mahluk air lainnya.
Pada arsitektur Candi, ukiran kala biasanya ditempatkan diatas Pintu masuk Candi sedangkan dibagian bawahnya sering dihiasi ornamen makara.
Karena keduanya sering ditempatkan berdampingan pada gerbang candi, masyarakat kemudian mengenalnya dengan istilah Kalamakara.
Makna Populer dan Makna Filosofis Dalam Dunia Keris
Secara populer, Kala dikenal sebagai simbol pelindung, yang dipercaya menolak bala dan mengusir energi negatif. Wajahnya yang garang sering ditempatkan di atas pintu candi sebagai penjaga ruang suci.
Dalam tradisi perkerisan, ukiran Kala bukan sekedar ornamen Penghias, melainkan Pengingat terhadap kematian yang menjadi langkah pertama dalam penyucian diri.
Ketika seseorang menyadari bahwa sebesar apa pun kekuasaan, kekayaan, maupun pencapaiannya pada akhirnya akan ditelan waktu, maka ego kehilangan pijakan. Kesombongan perlahan berubah menjadi kerendahan hati.
Kala mengajarkan bahwa seluruh pencapaian dunia hanyalah titipan yang bersifat sementara, pada ahirnya semua yang kita miliki akan tunduk dibawah hukum sang Waktu.


Komentar
Posting Komentar