Keris Pusaka Carita Prasaja Mataram Senopaten

Gambar Produk 1 Gambar Produk 2 Gambar Produk 3 Gambar Produk 4 Gambar Produk 5
Klangenan
Rp21.000.000
Dhapur Keris Carita Prasaja
Pamor : Tunggul Kukus
Tangguh : Mataram Senopaten, est Abad 16 M.
Original Sepuh Otentik


Dhapur Carita Prasaja

Dalam buku gambar dhuwung iyasanipun GKPH Hadiwijaya, Dhapur Carita Prasaja adalah keris dengan ricikan: Luk sawelas, Sekar kacang, Jalen, Lambe gajah kalih, Sogokan, Tikel alis, Sraweyan, Greneng.
꧋ꦣꦥꦸꦂꦕꦫꦶꦠꦥꦿꦱꦗ꧇ꦭꦸꦏ꧀ꦱꦮꦺꦭꦱ꧀‌ꦱꦼꦏꦂꦏꦕꦁ꧈ꦗꦭꦺꦤ꧀‌ꦭꦩ꧀ꦧꦺꦒꦗꦃꦏꦭꦶꦃ꧈ꦱꦺꦴꦒꦺꦴꦏꦤ꧀‌ꦠꦶꦏꦺꦭ꧀ꦄꦭꦶꦱ꧀‌ꦱꦿꦮꦺꦪꦤ꧀‌ꦒꦿꦼꦤꦼꦁ꧉ 
Dhapur Carita Prasaja : Luk sawelas, sekar kacang, jalen, lambe gajah kalih, sogokan, tikel alis, sraweyan, greneng.
Sekilas dhapur ini seperti ricikan dhapur sabuk inten, namun dhapur carita prasaja memiliki ricikan dua lambe gajah yang menjadi pembeda.

Makna Dhapur Carita Prasaja

"Carita" berarti cerita, kisah, perjalanan hidup, serta setiap pengalaman yang menjelma menjadi pelajaran, sedangkan "Prasaja" bermakna sederhana, apa adanya, jujur, tidak dilebihkan dan tidak pula dikurangi—sebagaimana kebenaran itu sendiri.

Tidak semua keagungan lahir dalam gemerlap kemewahan. Justru banyak mahakarya terbesar di dunia hadir dalam rupa yang sederhana, namun menyimpan perjalanan panjang yang tak pernah diketahui oleh mata yang hanya memandang permukaan.

Demikian pula kehidupan.

Setiap langkah yang kita tapaki adalah sebuah Carita. Setiap air mata yang jatuh, setiap luka yang sembuh, setiap kebahagiaan yang singgah, semuanya perlahan mengukir sejarah kehidupan yang kelak akan dikenang sebagai bagian dari perjalanan jiwa.

Dalam pandangan falsafah Jawa, kesederhanaan bukanlah tanda kekurangan, melainkan kemuliaan budi. Seseorang yang hidup prasaja tidak menyembunyikan kebenaran, namun juga tidak menghiasinya dengan kepalsuan. Ia hadir sebagaimana adanya—selaras antara ucapan, perbuatan, serta kejernihan hatinya.

Para leluhur mewariskan sebuah pitutur yang sederhana, namun mengguncang kesadaran:

"Yen pengin mulya, mbok ya sing prasaja."

"Apabila menghendaki kemuliaan hidup, hiduplah dengan kesederhanaan."

Pitutur ini bukan sekadar mengajarkan hidup sederhana dalam rupa lahiriah, melainkan mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak pernah tumbuh dari kesombongan, kemewahan, ataupun keinginan yang tak mengenal batas.

Kemuliaan lahir dari hati yang jujur, tutur kata yang bersih, serta laku hidup yang penuh ketulusan.

Sebab pada akhirnya, yang paling bercahaya bukanlah apa yang dimiliki manusia, melainkan siapa dirinya ketika tidak ada lagi yang perlu dipertontonkan.

Itulah makna Prasaja.

Sebuah jalan sunyi yang menuntun manusia menuju martabat, kebijaksanaan, dan kedamaian batin.



Pamor Tunggul Kukus

Tunggul berarti pertanda atau perlambang, sedangkan kukus berarti asap yang membubung ke angkasa.

Nama pamor ini berasal dari bentuk garis-garis pamor yang menjulang ke atas, menyerupai kepulan asap yang perlahan naik meninggalkan bumi menuju langit.

Dalam tradisi Jawa, kepulan asap dupa maupun kemenyan bukan sekadar wewangian ritual. Ia merupakan perlambang doa yang diiringkan dengan penuh ketulusan, menghubungkan harapan manusia kepada Sang Maha Pencipta.

Asap selalu bergerak ke atas.

Ia tidak pernah kembali ke tanah.

Sebagaimana doa yang dipanjatkan dengan hati yang bersih, ia akan terus menuju ke hadirat-Nya.

Karena itulah sejak dahulu Pamor Tunggul Kukus dipercaya melambangkan kewibawaan, kemuliaan, perlindungan dari niat buruk, kehormatan, serta harapan agar setiap doa memperoleh ridha dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Makna tersebut berpadu indah dengan filosofi Carita Prasaja.

Bahwa kewibawaan sejati bukanlah sesuatu yang dipamerkan.

Ia lahir dari hati yang rendah, dari kejujuran yang tidak dibuat-buat, dari kesederhanaan yang tidak mencari pujian, serta dari ketulusan yang tidak mengharap sanjungan.

Sebagaimana asap yang tak pernah bersuara namun selalu menuju langit, demikian pula kemuliaan seseorang akan dikenang bukan karena apa yang diucapkannya, melainkan karena kebeningan laku kehidupannya.

---

Tangguh Mataram Senopaten — Abad XVI Masehi

Berdasarkan Karakter Bilah, Cirikhas Garap , tipologi bentuk ricikan, kondisi material besi pamor dan sebagainya. Keris ini diperkirakan berasal dari masa Mataram Senopaten sekitar abad ke-16 Masehi, sebuah masa yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan budaya keris Nusantara pada era pemerintahan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Panembahan Senapati (Sebagai Raja Pertama Kesultanan Mataram).

Karya-karya pada tangguh ini dikenal memiliki proporsi yang matang, ricikan yang tegas yang merujuk pada pakem Majapahit, serta keseimbangan yang indah antara kekuatan bentuk yang prigel dan tangkas, kehalusan garap, serta kedalaman falsafah.

Bagi masyarakat Jawa, keris bukan sekadar senjata.

Ia adalah Curiga—lambang kewaspadaan lahir dan batin.

Ia juga mengandung makna "Sipat Kandel", yakni garis tebal yang mengingatkan manusia agar tidak terjerumus dalam hawa nafsu, keserakahan, maupun angkara murka.

Keaslian bilah yang masih original sepuh menjadikan pusaka ini bukan hanya bernilai sebagai benda bersejarah, melainkan juga sebagai saksi bisu perjalanan peradaban, kebudayaan, dan kebijaksanaan para leluhur Nusantara.

---

Warangka dan Kelengkapan Busana Pusaka

Keagungan bilah ini semakin sempurna dalam balutan Warangka Branggah Gaya Ngayogyakarta, yang memancarkan perpaduan antara keanggunan, ketegasan, dan kewibawaan.

Warangka dibuat dari kayu Timoho bagian bonggol, menampilkan pelet berupa corak alami yang tidak pernah dapat diseragamkan. Setiap guratan kayunya menjadi penanda bahwa alam selalu melahirkan keindahan yang unik dan tidak terulang.

Bagian Jejerandeder menggunakan kayu cendana wangi, diukir dengan motif Kala-Putri Kinurung, sebuah karya seni tradisional yang menghadirkan kehalusan rasa sekaligus kekuatan makna.

Sebagai penyempurna busana pusaka, terpasang mendak berbahan perak berhias intan berlian, dipadukan dengan pendok kuningan crum silver bertatahan motif Merak Ngigel, serta dipercantik oleh kamolo merah asli yang menghadirkan semburat keanggunan sekaligus mempertegas nilai artistiknya.

Seluruh unsur tersebut berpadu dalam harmoni yang menghadirkan falsafah "Prasaja lan Mbrabu".

Sederhana namun berwibawa.

Tenang namun memancarkan pesona.

Indah tanpa perlu berlebihan.

Dan mungkin, di situlah letak keagungan sebuah pusaka.

Ia tidak meminta untuk dikagumi.

Ia hanya diam.

Namun siapa pun yang memandangnya dengan hati yang jernih akan merasakan seolah para leluhur sedang berbisik perlahan:

"Kemuliaan bukanlah tentang seberapa tinggi engkau berdiri di hadapan manusia, melainkan seberapa rendah hatimu ketika berdiri di hadapan Gusti."

Semoga pusaka ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang indah dipandang, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang dijalani dengan kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan.

Karena pada akhirnya, setiap manusia sedang menulis *Carita*-nya sendiri, dan hanya mereka yang hidup *Prasaja* yang akan meninggalkan kisah yang layak dikenang sepanjang zaman.
Rahayu Sagung dumadi, Salam santun dan terimakasih.
2026 | PSP | Padhang Bulan

Komentar

Postingan Populer